Krisis Identitas di Era Digital, Mengapa Aqidah Menjadi Kunci?

  • 15 Jun 2026 18:04 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Di era digital yang ditandai dengan derasnya arus informasi, generasi muda memiliki akses yang sangat luas terhadap berbagai sumber pengetahuan dan hiburan. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru berupa kebingungan dalam menemukan jati diri akibat lebih banyak berinteraksi di dunia maya dibandingkan kehidupan nyata.

Meski demikian, lingkungan sosial di dunia nyata juga turut memengaruhi pembentukan identitas generasi muda. Pergaulan yang kurang tepat dapat membuat sebagian remaja kehilangan arah sehingga memengaruhi cara berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan.

Informasi yang beredar di media sosial tidak seluruhnya sejalan dengan nilai agama maupun budaya yang berlaku di masyarakat. Karena itu, generasi muda perlu memiliki kemampuan untuk menyaring informasi agar tidak mudah terpengaruh oleh konten yang dapat berdampak negatif.

Menyikapi kondisi tersebut, Guru sekaligus Pembina Komunitas Recis (Remaja Cinta Islam) Kota Padang, Resti Wahyuni, S.Pd.I., M.Pd., menyampaikan tausiyah dalam program Muda Bertaqwa di RRI Pro 2 Padang. Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan pentingnya aqidah sebagai pondasi utama dalam menjalani kehidupan di tengah perkembangan zaman.

Menurut Resti, aqidah merupakan keyakinan yang kuat dan tertanam dalam hati seseorang terhadap agama dan Tuhannya. Aqidah menjadi landasan yang membimbing seseorang dalam menjalani kehidupan serta membantu menghadapi berbagai tantangan yang muncul di era modern.

Ia menjelaskan bahwa lemahnya aqidah dapat menimbulkan berbagai dampak bagi generasi muda. Mulai dari mudah mengikuti tren negatif, rentan terpengaruh paham yang bertentangan dengan ajaran agama dan budaya, hingga kesulitan menghadapi tekanan serta persoalan hidup.

Dalam pembahasan tersebut, Resti juga menyoroti pentingnya peran keluarga sebagai lingkungan pertama yang membentuk karakter dan keimanan anak. Menurutnya, orang tua memiliki tanggung jawab untuk menanamkan pendidikan agama sejak dini melalui keteladanan yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Selain keluarga, lingkungan pertemanan juga memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan remaja. Pergaulan yang positif dapat membantu memperkuat nilai-nilai keagamaan dan membentuk karakter yang lebih baik.

Resti menegaskan bahwa generasi muda perlu bersikap bijak dalam memanfaatkan media sosial. Meskipun kerap membawa dampak negatif, teknologi juga dapat menjadi sarana yang bermanfaat untuk menyebarkan informasi positif, edukatif, dan bernilai dakwah.

Pada akhir tausiyahnya, Resti membagikan sejumlah langkah yang dapat dilakukan untuk memperkuat aqidah di tengah era digital. Langkah tersebut antara lain memperbanyak membaca Al-Qur'an, mengikuti kajian keagamaan secara rutin, menjaga ibadah wajib, memilih lingkungan pergaulan yang baik, serta aktif dalam kegiatan keagamaan dan sosial.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....