Jejak Sejarah Jalan Lintas Sumatera

  • 09 Mar 2026 14:12 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Pembangunan jalan raya di Pulau Sumatera sebenarnya sudah dimulai sejak zaman kolonial Belanda untuk kepentingan pengangkutan hasil bumi. Pihak kolonial memprioritaskan jalur darat guna menghubungkan perkebunan kopi serta karet menuju pelabuhan besar di pesisir wilayah tersebut.

Pemerintah Indonesia kemudian secara resmi mulai menggagas megaproyek Jalan Lintas Sumatera ini pada sekitar tahun 1965 silam. Gagasan ambisius tersebut bertujuan menyatukan seluruh provinsi dari Lampung hingga Aceh dalam satu jaringan transportasi darat yang solid.

Berdasarkan data sejarah, pengerjaan fisik jalan ini mengalami percepatan signifikan saat memasuki era kepemimpinan Presiden Soeharto tahun 1970. Dana pembangunan yang besar dikucurkan untuk membuka hutan belantara demi menciptakan akses mobilitas masyarakat di seluruh penjuru pulau.

Panjang total Jalan Lintas Sumatera saat ini telah mencapai sekitar 2.508 kilometer yang membentang dari utara hingga selatan. Angka tersebut merujuk pada catatan resmi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mengenai panjang jalan nasional di Sumatera.

Jalur ini terbagi menjadi tiga rute utama yang mencakup Lintas Barat, Lintas Tengah, serta rute Lintas Timur Sumatera. Lintas Timur menjadi jalur paling padat karena menghubungkan pusat ekonomi penting seperti kota Medan, Pekanbaru, Palembang, dan Jambi.

Pemerintah juga sedang gencar membangun Jalan Tol Trans Sumatera yang direncanakan memiliki total panjang mencapai 2.818 kilometer. Proyek strategis nasional ini dikerjakan oleh PT Hutama Karya berdasarkan amanat yang tertuang dalam Peraturan Presiden nomor 117.

Data dari Badan Pengatur Jalan Tol menunjukkan bahwa beberapa ruas utama sudah beroperasi penuh untuk melayani arus kendaraan. Kehadiran jalan tol ini berhasil memangkas waktu tempuh antar kota secara signifikan jika dibandingkan melalui jalan nasional lama.

Kondisi geografis Sumatera yang penuh dengan pegunungan serta rawa menjadi tantangan besar bagi para insinyur dalam membangun jalan. Biaya perawatan rutin terus dialokasikan setiap tahun agar kualitas aspal tetap terjaga demi keselamatan seluruh pengguna jalan raya.

Saat ini ribuan kendaraan dari truk logistik hingga bus antarkota setiap harinya menggantungkan hidup pada aspal Lintas Sumatera. Keberadaan infrastruktur ini menjadi tulang punggung ekonomi yang sangat vital bagi jutaan penduduk yang tinggal di Pulau Sumatera.

Rekomendasi Berita