Teater Balai Angkat Sisi Emosional Gadih Bujang dalam Ronggiang

  • 30 Sep 2026 14:53 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Teater Balai Bukittinggi mengangkat seni tradisi Ronggiang Pasaman Barat melalui pertunjukan Physical of Ronggiang. Pertunjukan tersebut menggali sisi emosional tokoh Gadih Bujang yang menjadi bagian dari pertunjukan Ronggiang tradisional.

Sutradara, pemusik, dan skenografer Physical of Ronggiang, Ahmad Ridwan Fadjri mengatakan, pertunjukan tersebut berangkat dari seni tradisi Ronggiang yang berkembang di Pasaman Barat. Ronggiang disebutnya memiliki latar akulturasi budaya Jawa dengan kebiasaan masyarakat Minangkabau.

“Kalau kita lihat dari judulnya Physical of Ronggiang, kita berangkat dari seni tradisi yang berasal dari Pasaman Barat, yaitu Ronggiang. Ronggiang ini merupakan akulturasi budaya dari transmigrasi Jawa pada masa dahulu dengan kebiasaan masyarakat di Minangkabau,” ujar Ahmad Ridwan Fadjri usai tampil di Saraso Fest 2026 pada Selasa malam, 29 September 2026.

Menurutnya, pertunjukan Physical of Ronggiang tidak sekadar menampilkan bentuk kesenian tradisi, tetapi mengeksplorasi emosi tokoh Gadih Bujang. Tokoh tersebut digambarkan memiliki perasaan yang ambigu, penuh kekecewaan dan kebimbangan.

“Pertunjukan ini menggali lebih dalam sisi dan emosi terdalam dari Gadih Bujang. Sosok ini sangat ambigu, penuh dengan kekecewaan dan kebimbangan,” ujarnya.

Ahmad mengatakan, Teater Balai tertarik menggarap kembali seni tradisional karena banyak kesenian Minangkabau yang membutuhkan revitalisasi. Menurutnya, seni tradisi juga menyimpan nilai filosofis yang dapat menjadi sumber pembelajaran bagi generasi muda.

Ia berharap pertunjukan tradisi tidak hanya dipandang sebagai tontonan, tetapi juga menjadi sarana mengenali kembali kebudayaan. “Seni pertunjukan ini bukan hanya menjadi tontonan, tapi menjadi pembelajaran, menjadi sarana bersosial, dan sarana kita mengenali kembali kebudayaan kita,” katanya.

Physical of Ronggiang dimainkan oleh enam performer, dua pemusik, dan seorang stage manager. Pertunjukan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Saraso Fest 2026 atau Pekan Kebudayaan Daerah Sumatera Barat 2026 yang digelar sejak tanggal 28 September hingga 3 Oktober 2026.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....