Dinkes Padang Perkuat Skrining TBC di 242 Lokasi

  • 19 Sep 2026 07:30 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Padang mencatat sebanyak 2.705 kasus tuberkulosis (TBC) hingga 15 September 2026. Jumlah tersebut masih di bawah estimasi kasus yang ditetapkan Kementerian Kesehatan untuk Kota Padang tahun ini sekitar 4.800 kasus.

Subkoordinator Penyakit Menular Dinkes Kota Padang, Evawestari mengatakan, penemuan kasus TBC terus diperkuat melalui kegiatan tracing atau pelacakan kasus yang terintegrasi dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Kegiatan tersebut saat ini dilaksanakan di 242 lokasi di Kota Padang.

“Pencegahan penularan penyakit TBC ini membutuhkan kolaborasi semua pihak. Kegiatan tracing TBC terintegrasi CKG yang dilakukan saat ini melibatkan Dinkes kota dan Provinsi Sumatera Barat, hingga Persatuan Dokter Paru Indonesia. Kolaborasi tersebut dilakukan untuk memperluas jangkauan skrining sekaligus mempercepat penemuan kasus TBC sedini mungkin,” ujarnya, Jumat, 18 September 2026.

Ia menuturkan, kegiatan skrining sedang berlangsung di Kantor Camat Lubuk Begalung, masyarakat menjalani sejumlah pemeriksaan kesehatan. “Kegiatan ini dihadiri langsung Wakil Menteri Kesehatan RI, sejumlah skrining TBC dilakukan melalui pemeriksaan rontgen atau X-ray, pemeriksaan dahak, Mantoux test, serta swab sesuai kebutuhan pemeriksaan,” kata Evawestari.

Evawestari menyebutkan, berdasarkan capaian hingga pertengahan September, jumlah penemuan kasus TBC di Kota Padang berpotensi mendekati capaian tahun sebelumnya. Pada tahun lalu, penemuan kasus TBC di Kota Padang berada di kisaran 4 ribu kasus.

Meski demikian, menurutnya, peningkatan angka penemuan kasus bukan menjadi tujuan utama program penanggulangan TBC. “Penemuan kasus sebanyak mungkin justru diperlukan agar pasien segera mendapatkan penanganan sehingga potensi penularan dapat ditekan dan kasus baru pada tahun berikutnya diharapkan menurun,” ujarnya.

Dinkes Kota Padang juga memprioritaskan skrining terhadap kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi tertular TBC. Sasaran tersebut meliputi kontak erat pasien TBC, seperti anggota keluarga yang tinggal serumah atau orang yang sering berinteraksi, serta pasien diabetes melitus, anak dengan gizi kurang dan kelompok berisiko lainnya seperti perokok.

Sementara itu, Dokter Paru RS Paru Sumatera Barat, dr. Elvera Susanti mengatakan, selain kontak erat, pasien diabetes melitus, anak dengan gizi kurang dan perokok, kelompok dengan daya tahan tubuh rendah juga menjadi perhatian dalam penemuan kasus TBC. “Secara umum setiap orang memiliki risiko terpapar TBC, namun kondisi imunitas yang rendah dapat meningkatkan peluang infeksi berkembang menjadi penyakit,” ujarnya.

Menurutnya, bakteri TBC dapat berada dalam tubuh seseorang dalam kondisi tidak aktif atau dorman tanpa menimbulkan gejala. “Ketika daya tahan tubuh menurun, bakteri tersebut dapat kembali aktif dan memunculkan gejala seperti batuk dan demam,” kata dr. Elvera.

Elvera menyebut, kasus TBC cukup banyak ditemukan pada kelompok usia produktif, bukan hanya pada kelompok usia lanjut. Karena itu, kewaspadaan terhadap gejala TBC perlu ditingkatkan terutama pada masyarakat usia produktif.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....