Wamen LH Soroti Sampah, Perubahan Iklim dan Ancaman Bencana

  • 22 Agt 2026 06:40 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono menyoroti pentingnya pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan, terutama dalam menghadapi persoalan sampah, perubahan iklim dan meningkatnya ancaman bencana hidrometeorologis. Hal itu disampaikan Diaz saat memberikan kuliah umum di Convention Hall Universitas Andalas (UNAND), Kamis, 20 Agustus 2026.

Kegiatan tersebut sekaligus menandai pembukaan Rapat Koordinasi Teknis Tata Lingkungan 2026 Wilayah Barat dengan tema “Tata Lingkungan Berbasis Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup Pascabencana Hidrometeorologis”. Dalam pemaparannya, Diaz mengingatkan pentingnya air bagi kehidupan manusia.

Menurutnya, sejak peradaban tertua, manusia cenderung membangun kehidupan di sekitar aliran sungai karena tingginya kebutuhan terhadap sumber air. “Sejak peradaban tertua, manusia hidup di hilir sungai. Ini membuktikan bahwa kebutuhan manusia terhadap air sangat tinggi. Namun, saat ini air banyak dicemari oleh sampah dan pada akhirnya dapat tercemar mikroplastik,” ujarnya.

Menurut Diaz, persoalan lingkungan juga tidak dapat dipisahkan dari perubahan iklim. Indonesia sebagai bagian dari komunitas global memiliki komitmen dalam mitigasi perubahan iklim melalui kerangka United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) dan Paris Agreement.

Salah satu upaya yang perlu dilakukan yakni menurunkan emisi karbon. Diaz mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, mengambil peran melalui perubahan perilaku sehari-hari, termasuk meningkatkan penggunaan transportasi umum.

“Pengurangan emisi karbon bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Kita semua dapat berkontribusi melalui kebiasaan sehari-hari, salah satunya dengan lebih aktif menggunakan kendaraan umum,” katanya.

Diaz juga menekankan pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumber. Menurutnya, langkah tersebut menjadi bagian mendasar dalam mewujudkan target Indonesia Bebas Sampah 2029.

“Pemilahan sampah dari hulu untuk mewujudkan Indonesia bebas sampah tahun 2029. Karena jika tidak dipilah, secanggih apa pun sistem kita saat ini tidak akan berfungsi maksimal,” ujarnya.

Ia menjelaskan, teknologi pengelolaan sampah tidak akan berjalan optimal apabila sampah yang masuk ke dalam sistem tidak terlebih dahulu dipilah. Karena itu, kesadaran masyarakat memilah sampah dari sumber menjadi bagian penting dalam membangun tata kelola lingkungan yang berkelanjutan.

Selain sampah dan perubahan iklim, Diaz menyoroti perkembangan teknologi kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI). Menurutnya, pemanfaatan AI juga memiliki konsekuensi terhadap lingkungan karena membutuhkan konsumsi energi listrik dan air yang besar.

Ia mengingatkan perkembangan teknologi harus diiringi kesadaran terhadap dampak lingkungan. “Penggunaan AI perlu dilakukan secara bijak dengan mempertimbangkan kebutuhan energi dan sumber daya yang digunakan,” katanya.

Sementara itu, Rektor UNAND Efa Yonnedi menegaskan tata kelola lingkungan tidak boleh ditempatkan sebagai sesuatu yang bertentangan dengan pembangunan ekonomi. Menurutnya, pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan harus berjalan beriringan.

“Tata kelola lingkungan tidak boleh kontradiktif dengan pembangunan ekonomi, tetapi harus berjalan bersama. Menurut kami, pendekatan yang paling cocok adalah pendekatan ekonomi lingkungan untuk memastikan pembangunan dan ekonomi berjalan secara seimbang,” ujarnya.

Efa mengatakan UNAND terus berupaya menerapkan prinsip keberlanjutan dalam pengelolaan lingkungan kampus. Salah satunya melalui target zero waste yang hingga kini masih terus diupayakan. UNAND juga mengembangkan berbagai kerja sama untuk mendukung pengelolaan lingkungan, termasuk melalui kolaborasi dengan PT Semen Padang dalam sejumlah program lingkungan dan keberlanjutan.

Selain pengelolaan sampah, UNAND turut berkontribusi dalam pemulihan lingkungan di kawasan terdampak bencana. Salah satunya melalui penanaman kembali ribuan bibit pohon di sejumlah wilayah terdampak bencana.

“UNAND juga aktif menghijaukan kembali daerah-daerah pascabencana. Baru-baru ini kami melakukan penanaman 3.800 bibit pohon di daerah terdampak bencana,” katanya.

Melalui kegiatan tersebut, UNAND menegaskan komitmen untuk berkontribusi dalam penguatan tata kelola lingkungan, mitigasi perubahan iklim dan pemulihan ekosistem pascabencana. Kuliah umum tersebut juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memahami bahwa persoalan lingkungan membutuhkan kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat, dunia usaha dan generasi muda.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....