Kemenag Kenalkan Kurikulum Berbasis Cinta, Empati Jadi Fondasi Belajar

  • 11 Jun 2026 15:51 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Kementerian Agama (Kemenag) mengembangkan Kurikulum Berbasis Cinta sebagai inovasi terbaru dalam transformasi pendidikan madrasah di Indonesia. Kurikulum ini menempatkan empati, penghargaan terhadap keberagaman, dan pembentukan karakter sebagai fondasi utama proses pembelajaran.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat, Mustafa, memperkenalkan kurikulum ini saat membuka Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan di MIN 3 Kota Padang, Kamis, 11 Juni 2026. Ia menyebut Kurikulum Berbasis Cinta lahir dari kebutuhan dunia pendidikan untuk menghadirkan proses belajar yang lebih humanis dan berdampak nyata bagi peserta didik.

“Tema yang diangkat hari ini sangat luar biasa. Kurikulum Berbasis Cinta menjadi salah satu isu penting dalam transformasi pendidikan madrasah yang sedang berkembang saat ini,” ujar Mustafa.

Ia menjelaskan berbeda dari pendekatan kurikulum sebelumnya yang lebih berorientasi akademik, Kurikulum Berbasis Cinta dirancang untuk menghargai nilai-nilai kemanusiaan secara utuh. Kurikulum ini mendorong guru membangun hubungan yang lebih bermakna dengan peserta didik, bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran.

Mustafa menjelaskan setiap kurikulum pada dasarnya memiliki empat unsur utama, yaitu tujuan, materi, metode, dan evaluasi. Kurikulum Berbasis Cinta mengisi keempat unsur itu dengan pendekatan yang lebih mengedepankan empati dan penghormatan terhadap keberagaman sebagai nilai yang hidup di ruang kelas.

Ia juga menegaskan keberhasilan kurikulum baru ini sangat bergantung pada kesiapan guru untuk berubah. Sebaik apapun konsep yang dirancang, hasilnya tidak akan optimal tanpa perubahan pola pikir dan kemauan guru untuk terus belajar dan beradaptasi.

"Yang perlu dibangun terlebih dahulu adalah mindset guru. Karena guru adalah ujung tombak yang mengoperasionalkan kurikulum dalam proses pembelajaran sehari-hari," kata Mustafa.

Mustafa turut mendorong para guru mengembangkan budaya belajar mandiri di luar pelatihan formal. Menurutnya, guru hari ini bukan lagi satu-satunya sumber belajar karena peserta didik pun dapat menjadi sumber pengetahuan dalam paradigma pembelajaran modern.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....