Seminar IMLF-4 Soroti Ancaman Kepunahan Bahasa Minangkabau
- 05 Jun 2026 14:52 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Bukittinggi – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mengingatkan bahwa bahasa Minangkabau menghadapi ancaman serius di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital. Jika tidak dilakukan upaya pelestarian secara sistematis, bahasa ibu masyarakat Minang itu diperkirakan dapat terancam punah dalam dua dekade mendatang.
Hal tersebut disampaikan Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Provinsi Sumatera Barat, Ahmad Zaki, saat membuka Seminar Kebudayaan dalam rangka International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) ke-4 di Auditorium Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perpustakaan Proklamator Bung Hatta, Bukittinggi, Jumat, 5 Juni 2026. Menurutnya, bahasa Minangkabau memiliki peran strategis sebagai identitas sekaligus pembentuk karakter masyarakat Minangkabau.
Ahmad Zaki mengatakan, bahasa Minangkabau tidak sekadar menjadi alat komunikasi, tetapi juga menjadi pilar utama yang mengokohkan jati diri masyarakat. Bahasa tersebut, katanya, merepresentasikan adat, budaya, nilai, dan sejarah yang diwariskan secara turun-temurun. "Bahasa Minangkabau merupakan cerminan budaya dan tradisi," ujarnya.
Ia menjelaskan, bahasa Minangkabau kaya akan ungkapan, peribahasa, serta istilah yang mencerminkan nilai-nilai kehidupan masyarakat Minang. Penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari menjadi bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur dan adat istiadat yang telah mengakar kuat.
"Saat ini bahasa Minangkabau menghadapi ancaman serius. Tanpa upaya sistematis, bahasa ibu ini berpotensi punah dalam dua dekade mendatang sesuai dengan prediksi dan pendapat para pengamat dan peneliti. Bisa dilihat saat ini bahwa anak-anak mulai merasa asing dengan bahasa daerah di rumah sendiri. Era digital mempercepat jarak generasi muda dari akar budaya. Generasi penerus kehilangan akses terhadap khazanah sastra dan pepatah petitih," kata Ahmad.
Seminar kebudayaan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Kota Bukittinggi Fery Chofa, Prithviraj Bhaskarrao Taur dari India, Pimpinan Perguruan Diniyah Puteri Padang Panjang, Fauziah Fauzan, serta penyair dan kritikus sastra asal Swiss, Laura Di Corcia. Kegiatan itu juga dihadiri Wakil Wali Kota Bukittinggi Ibnu Asis, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sumatera Barat Jumaidi, Kepala Dinas Kebudayaan Sumatera Barat Syaiful Bahri, dan Ketua IMLF-4 Sastri Bakry.
Seminar bertujuan membahas dan merefleksikan arah perkembangan budaya Minangkabau, khususnya pada aspek bahasa dan akhlak yang dinilai mulai terkikis oleh perkembangan zaman. Dalam rangkaian kegiatan yang sama, panitia juga meluncurkan 100 buku karya delegasi IMLF-4, penulis asal Sumatera Barat, dan penulis dari berbagai daerah di Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....