Pancasila di Saku Seragam Ganesha: Menenun Damai dari Bangku Kelas Lima SD

  • 31 Mei 2026 12:52 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Bagi Ganesha, seorang murid kelas V Sekolah Dasar Islam Khaira Ummah yang tumbuh di tengah riuhnya dunia anak-anak, 1 Juni mungkin awalnya hanyalah sebuah tanggal merah di kalender. Namun di balik seragam putih-merah yang dikenakan, Hari Lahir Pancasila menyimpan cerita dan harapan yang lebih sederhana, namun mendalamm sesuai dengan usianya.

Di usianya yang baru menginjak belasan tahun, Ganesha berada dalam fase krusial. Fase belajar, menyerap dan meniru lingkungan di sekitarnya. Baginya, memaknai Pancasila tentu bukan tentang menghafal pasal-pasal hukum atau pidato besar di podium. Pancasila bagi Ganesha adalah apa yang ia lihat, ia dengar dan ia lakukan di dalam ruang kelas serta halaman bermainnya sehari-hari.

Kepada RRI, Minggu, 31 Mei 2026, sang juara kelas ini bertutur tentang harapannya pada momen 1 Juni ini.

"Kalau di kelas, aku pengennya kita semua temenan, enggak ada yang musuh-musuhan atau pilih-pilih teman karena pintar atau enggak," ujar Ganesha polos dengan binar mata khas anak-anak. "Kata Ibu dan Guru di sekolah, Pancasila itu mengajarkan kita buat saling sayang. Jadi, harapanku di Hari Lahir Pancasila ini, enggak ada lagi teman yang suka mengejek atau bikin temannya menangis di sekolah. Kita bisa main bareng-bareng dengan damai."

Ganesha bersama kawan-kawan

Saat ini, tantangan pergaulan anak-anak usia sekolah dasar tidak lagi sederhana. Di tengah gempuran tontonan digital dan dinamika ego anak-anak, gesekan kecil antarteman kerap tak terhindarkan. Mulai dari saling ejek, kebiasaan mengelompokkan teman (geng-gengan) hingga sikap abai terhadap kawan yang sedang kesulitan.

Di sinilah, peringatan Hari Lahir Pancasila menemukan maknanya yang paling jujur bagi seorang pelajar seperti Ganesha.

Pancasila hadir sebagai "rem" sekaligus "kompas" dalam pergaulannya. Menjadi sila pertama berarti Ganesha belajar menghormati temannya yang berdoa dengan cara berbeda sebelum makan siang. Menjadi sila kedua berarti ia tidak ragu mengulurkan tangan saat melihat temannya terjatuh di lapangan sekolah, atau menahan diri untuk tidak ikut-ikutan mengejek fisik kawan sekelas.

Sebagai seorang anak yang masih dalam proses belajar, ada harapan besar yang terselip dari momentum hari bersejarah ini. Harapan agar lingkungan sekolah dan rumah bisa menjadi ruang yang aman dan hangat. Ganesha, seperti halnya jutaan anak Indonesia lainnya, membutuhkan keteladanan agar mereka paham bahwa berbeda pendapat saat memilih permainan di waktu istirahat adalah hal biasa.

Ganesha bersama kawan-kawan

Membumikan Pancasila pada anak seusia Ganesha adalah tentang merawat rasa empati yang jujur. Ketika Ganesha belajar berbagi bekal makanan, mendengarkan cerita temannya tanpa memotong pembicaraan, atau berani meminta maaf saat berbuat salah, di sanalah kelima sila itu sedang hidup dan berdenyut.

Hari Lahir Pancasila bagi pelajar sudah mencetak banyak prestasi di dunia seni bukanlah tentang upacara formal semata. Ini adalah tentang menanam benih kebaikan di hati Ganesha agar kelak saat ia tumbuh dewasa, ia tidak hanya menjadi manusia yang cerdas secara akademik, tetapi juga menjadi pribadi yang lembut hati, toleran dan memanusiakan sesama. Selamat Hari Lahir Pancasila, Ganesha. Teruslah belajar dan mewarnai dunia anakmu dengan kedamaian.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....