Tren Nikah Menurun di Sumbar, Kesiapan Remaja Ditekankan
- 02 Mar 2026 13:50 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang - Penurunan angka pernikahan di Sumatera Barat berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dinilai tidak semata-mata sebagai fenomena sosial biasa. Kondisi ini justru disebut menjadi peluang untuk mendorong kesiapan generasi muda sebelum memasuki kehidupan rumah tangga.
Kepala Perwakilan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN Provinsi Sumatera Barat, Mardalena Wati Yulia, mengatakan pernikahan usia anak masih menjadi perhatian serius karena berdampak luas terhadap kualitas generasi. Menurutnya, salah satu risiko terbesar adalah meningkatnya potensi stunting pada anak yang dilahirkan ibu berusia terlalu muda.
Ia menjelaskan, secara kesehatan reproduksi, perempuan yang menikah dan hamil di bawah usia 20 tahun belum sepenuhnya siap secara fisik. Kondisi tersebut dapat berpengaruh pada proses kehamilan dan persalinan, yang pada akhirnya meningkatkan risiko gangguan tumbuh kembang anak.
“Ketika mereka menikah di usia anak, salah satunya bisa melahirkan anak stunting. Karena salah satu penyumbang stunting itu anak yang dilahirkan oleh ibu usia muda,” ujarnya. Selain faktor kesehatan, ketidaksiapan mental dan emosional juga menjadi pemicu persoalan dalam rumah tangga.
Lebih lanjut, Mardalena menuturkan pernikahan di bawah usia 19 tahun sering kali berujung pada perceraian akibat belum matangnya kesiapan ekonomi dan psikologis pasangan. Menurutnya setelah menikah kebutuhan finansial menjadi tantangan nyata yang akan di hadapi pasangan.
Mardalena menjelaskan, upaya pencegahan dilakukan melalui Program Generasi Berencana (GENDRE) yang menyasar kalangan remaja. Program ini mendorong remaja menunda pernikahan hingga usia ideal, yakni minimal 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki.
Berdasarkan data BPS, angka pernikahan di Sumatera Barat dalam lima tahun terakhir menunjukkan tren menurun. Pada 2021 jumlah pernikahan tercatat 45.073, kemudian turun menjadi 42.483 pada 2022.
Penurunan kembali terjadi pada 2023 dengan angka 38.355 dan kembali turun menjadi 36.486 pada 2024. Sementara pada 2025, jumlah pernikahan tercatat 37.565, sedikit meningkat dibanding tahun sebelumnya namun masih lebih rendah dibanding capaian 2021.
Melalui edukasi tersebut, diharapkan remaja memahami pentingnya perencanaan kehidupan berkeluarga secara matang. Dengan kesiapan yang komprehensif, risiko stunting dan perceraian dapat ditekan, sehingga terwujud keluarga yang sehat dan berkualitas di masa depan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....