Tradisi Mudik bagi Perantau

  • 10 Mar 2026 15:04 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID,Padang – Mudik merupakan istilah umum yang disematkan pada mereka yang pulang kampung dan tidak terbatas pada periode waktu tertentu. Setiap orang yang pulang kampung disebut mudik.

Untuk tahun ini yang pasti momen para perantau menunjukkan kekompakan dengan Pulang Basamo bagi perantau Minang. Para Perantau menunjukan suka cita, kerinduan yang sangat dalam untuk bertemu sanak keluarga yang selama ini jauh dari mereka.

Mudik bukan fenomena baru, tradisi ini sudah ada sejak zaman kerajaan di Nusantara dulu. Mudik ini identik dengan momen hari hari besar seperti Idulfitri, Natal, Tahun Baru. Momen ini adalah waktu yang tepat untuk memperkuat silahturahmi yang selama ini menghalangi untuk suatu pertemuan. Momen berkumpul, melepas rindu, mempererat ikatan keluarga, dan sungkeman kepada orang tua menjadikan mudik ini sebagai tradisi bagi perantau.

Seperti Saleh, yang saat ini merantau di Surabaya. Ia sangat menantikan mudik bersama keluarga. Namun sayang karena pekerjaan ia harus mengubur keinginannya. “Walau harus menempuh perjalanan panjang dengan kendaraan darat, suasana meriah di kampung halaman selalu dirindukannya. Suasana kampung yang sederhana tak tergantikan oleh apapun," ucapnya menutup pembicaraan.

Di era modern, terutama sejak meningkatnya urbanisasi, mudik merupakan kegiatan tahunan yang melibatkan jutaan orang. Tradisi mudik bukan hanya terjadi di tanah air kita saja tetapi di tempat lain juga ada seperti di Malaysia dikenal dengan ‘ Balek Kampong’ atau di Turki dikenal dengan ‘Saker Bayram’ yang intinya masyarakat berbondong-bondong menuju kampung halaman, berkumpul bersama keluarga, ziarah sebagai bentuk penghormatan, membawakan oleh-oleh, berbelanja di kampung halaman sehingga mendorong tumbuhnya ekonomi lokal.

Secara etimologi kata mudik berasal dari bahasa Jawa ‘muleh dhisik ‘ yang artinya pulang dulu/sebentar ini berarti kembali ke kampung halaman terutama saat Lebaran atau libur panjang. Ada juga penjelasan lain dari bahasa Jawa Kuno yang berarti naik ke hulu dikenal dengan istilah ‘milir mudik’, artinya bolak-balik antara kota dan desa. Sejarah sudah ada sejak zaman dahulu ketika orang merantau berdagang atau bekerja kemudian pulang saat perayaan, tradisi ini semakin luas sehingga perkembangan urbanisasi ke kota untuk mencari penghidupan semakin berkembang.

Tantangan terbesar dalam tradisi mudik ini tentu akan didapati suasana yang beragam, mulai dari kemacetan karena orang melakukan perjalanan secara bersamaan yang menyebabkan penundaan tetapi tetap dilalui dengan suasana yang gembira, belum lagi harga tiket yang naik tiba-tiba, risiko kecelakaan, bencana alam atau tindakan kriminal. Semua ini terangkum dalam warna-warninya dan mudik akan selau ada jadi tradisi masyarakat.

Mudik bukan sekadar perjalanan fisik pulang kampung saja tetapi bagian identitas budaya yang terus berlangsung dengan makna sosial yang sangat dalam di masyarakat kita. Penghormatan dan rasa cinta pada orang tua, kerabat, untuk menjaga kedekatan tidak bisa hanya dengan komunikasi jarak jauh, momen untuk merasakan akar budaya mulai dari makanan khas,adat istiadat hingga suasana lingkungan kampung yang menjadi bagian seseorang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....