Energi Sabar dan Keikhlasan Mutiara Idul Adha
- 10 Jun 2025 15:18 WIB
- Samarinda
KBRN, Samarinda: Ibadah kurban bukanlah soal besar kecilnya hewan atau daging yang dibagikan, melainkan seberapa ikhlas dan bertakwa kita dalam menjalankannya. Takwa itulah yang dinilai oleh Allah, bukan kemewahan atau jumlahnya. Hal itu disampaikan Ustaz Machnun Uzni, S.I.Kom dalam program hikmah pagi, pada Senin (9/6/2025).
Ia mengajak panitia kurban atau sebagai orang yang berkurban, untuk mengedepankan rasa ikhlas dan menjaga lisan dari perdebatan yang tidak perlu tentang berat daging, ukuran hewan, dan sebagainya. Yang terbaik di sisi Allah adalah mereka yang paling ikhlas dan bertakwa.
Founder Sahabat Misykat Indonesia itu menjelaskan, Idul Adha adalah tentang keteladanan dari keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Tiga sosok utama yaitu Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan Siti Hajar menunjukkan kepada kita bagaimana sabar, ikhlas, dan tawakal menjadi kekuatan luar biasa dalam menghadapi ujian.
Ketika Nabi Ibrahim diminta menyembelih anaknya Ismail, beliau dengan penuh ketaatan menjalankan perintah Allah. Ismail pun menerima takdir dengan ikhlas. Namun ketika tawakal mencapai puncaknya, Allah menggantikan Ismail dengan sembelihan yang besar. Ini menunjukkan bahwa ujian akan diganti dengan kemuliaan jika kita berserah diri kepada-Nya.
Demikian pula kisah Siti Hajar yang berlari dari Bukit Shafa ke Marwah sebanyak tujuh kali dalam kondisi lemah pasca melahirkan. Ia mencari air untuk bayinya yang kehausan. Dalam situasi yang mustahil menurut logika, Allah munculkan keajaiban yaitu sumur Zamzam. Ini menjadi simbol bahwa sabar dan ikhtiar yang diiringi doa tidak akan sia-sia.
Lebih jauh ia menerangkan, sabar bukan hanya untuk menghadapi kesulitan, tetapi juga dalam mengelola kenikmatan. Orang yang diberikan harta, jabatan, atau kemudahan hidup, juga sedang diuji. Begitu pula dalam rumah tangga.
Kita belajar dari ketaatan Hajar kepada suaminya, Nabi Ibrahim. Dalam keadaan berat, ia tetap patuh dan yakin kepada Allah. Ketika mengetahui bahwa kepergian Ibrahim adalah perintah Allah, ia berkata “Jika ini perintah Allah, maka Dia tidak akan menelantarkan kami”. Ini adalah bentuk keimanan yang sempurna yakni yakin bahwa Allah akan menjaga dan memberi jalan keluar bagi mereka yang berserah diri.
Idul Adha mengajarkan bahwa agama bukan sekadar ritual, tetapi aksi nyata dalam kehidupan. Kesabaran dan keikhlasan bukan hanya nilai spiritual, tetapi fondasi karakter seorang muslim.
Dalam Surah Ali Imran ayat 142, Allah berfirman yang artinya “Apakah kamu mengira akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah siapa yang benar-benar berjihad dan bersabar di antara kamu”. Ayat ini menyadarkan kita bahwa surga bukanlah hadiah yang murah. Dibutuhkan perjuangan dan kesabaran untuk mendapatkannya.
Semoga kita termasuk hamba-hamba yang mampu meneladani keluarga Nabi Ibrahim, menghidupkan nilai-nilai keikhlasan dan kesabaran dalam kehidupan, serta menjadikan Idul Adha sebagai momentum transformasi diri menuju pribadi yang lebih baik di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....