Ceramah Subuh: Jejak Ibadah Rasulullah SAW Akhir Ramadan

  • 18 Mar 2026 23:08 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Meulaboh - Masjid Jamik Baiturrahim Gampong (Desa) Ujong Baroh Kecamatan Johan Pahlawan Kabupaten Aceh Barat kembali melaksanakan cermah subuh pada Ramadan Ke-27 tahun 2026 Masehi/1447 Hijriah. Ceramah diisi oleh Tgk. Dr. Husamuddin, Lc., MA dengan judul “Jejak Ibadah Rasulullah SAW di Akhir Ramadan”.

Diawal ceramah Tgk Husamuddin menyampaikan puji dan syukur yang diberikan oleh Allah SWT baik baik kesehatan, umur panjang, nikmat iman, mudah-mudahan Allah panjang kan usia kita hingga akhir Ramadan.

“Shalawat beserta salam juga disampaikan kepada pangkuan alam Nabi Besar Muhammad SAW, sebagai uswah kita hingga akhir zaman, sehingga mendapatkan syafaat dari Rasulullah SAW” kata Tgk Husamuddin dimimbar Masjid Jamik Baiturrahim.

Suatu ketika pada riwayat Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Latha’if al-Ma’arif fima li Mawasim al-’Am min al-Wazha’if, disebutkan beberapa hadist untuk merangkai peristiwa ritual ibadah serta Amalan-amalan dalam Setahun termasuk pada bulan Ramadan.

Dalam kitab ini, Imam Ibnu Rajab merangkai berbagai riwayat hadis dan atsar untuk menjelaskan keutamaan serta ibadah yang dianjurkan pada bulan-bulan hijriah, mulai dari Muharram hingga Dzulhijjah, dengan pendekatan tazkiyatun nufus (penyucian jiwa).

“Imam Ibnu Rajab al-Hambali memaparkan riwayat hadits bahwa Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan, dan kedermawanannya mencapai puncaknya pada bulan Ramadan” jelas Tgk Husamuddin.

Ibnu Rajab mengutip hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu 'Abbas RA: "Rasulullah adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadan saat Jibril menemui beliau...".

Dalam riwayat tersebut, kedermawanan Nabi di bulan Ramadan digambarkan lebih cepat/bermanfaat daripada angin yang berhembus (Ar-Rih Al-Mursalah). Kedermawanan ini meningkat karena beliau melakukan tadarrus (mempelajari/mengulang) Al-Qur'an bersama Malaikat Jibril setiap malam Ramadan.

“Ibnu Rajab juga menekankan bahwa sedekah yang dilakukan pada bulan Ramadan adalah sedekah yang paling utama karena pahalanya dilipatgandakan” jelas Tgk Husamuddin.

Kitab ini disusun untuk merangkai peristiwa ritual ibadah dan fadhilah amal setiap bulannya dalam kalender Islam, mulai dari bulan Muharram hingga Dzulhijjah. Untuk bulan Ramadan, Imam Ibnu Rajab menekankan pentingnya memaksimalkan puasa, sedekah, dan tilawah Al-Qur'an.

“Malaikat Jibril menemui Rasulullah SAW setiap malam di bulan Ramadan untuk bertadarus (mudarosah) Al-Qur'an. Hal ini didasarkan pada hadits shahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim, yang menunjukkan istimewanya bulan Ramadhan sebagai bulan Al-Qur'an” ungkap Tgk Husamuddin.

Berdasarkan riwayat hadits, Malaikat Jibril mendatangi Rasulullah SAW setiap malam di bulan Ramadan untuk bertadarus (mudarosah) Al-Qur'an. Aktivitas ini bukan hanya sekadar membaca, melainkan, menyimak dan mengoreksi (Talaqqi & Musyafahah), Malaikat Jibril menyimak bacaan Rasulullah untuk memastikan ketelitian dan kebenaran tajwid serta makhraj, lalu Rasulullah juga menyimak bacaan Jibril.

Mempelajari dan Memahami Makna (Tadarus), tadarus juga mengandung makna mendalami, mempelajari, merenungkan (tadabbur), dan memahami kandungan isi Al-Qur'an.

Mengulang Wahyu (Mudarosah), Jibril mengajarkan dan mengulang kembali ayat-ayat Al-Qur'an yang telah diturunkan, khususnya yang diturunkan dalam kurun waktu satu tahun terakhir, untuk memperkuat hafalan dan pemahaman Nabi.

Meningkatkan Kualitas Ibadah, pertemuan ini juga bertujuan untuk meningkatkan intensitas ketaatan, terutama dalam hal kedermawanan dan ibadah di bulan Ramadan.

“Secara ringkas, tadarus Jibril dan Rasulullah adalah proses pendidikan, penyimakan intensif, pengulangan wahyu, dan pemahaman makna Al-Qur'an secara langsung (mudarosah)” kata Tgk Husamuddin.

Beriktikaf di sepuluh malam terakhir Ramadhan adalah sunnah muakkad (sunnah yang sangat ditekankan) yang konsisten dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW hingga akhir hayat beliau.

Makna dan tujuan utama dari iktikaf tersebut adalah, mengejar Lailatul Qadar, sehingga fokus utamanya mencari malam kemuliaan (Lailatul Qadar) yang lebih baik dari seribu bulan, yang diprediksi jatuh pada malam-malam ganjil di sepuluh terakhir.

Fokus beribadah ini yaitu mengasingkan diri dari urusan duniawi untuk mendekatkan diri total kepada Allah SWT, menghidupkan malam dengan salat, membaca Al-Qur'an, dzikir, dan berdoa.

Introspeksi diri dan penyucian jiwa, sehingga menjadi momen untuk mengevaluasi diri (muhasabah), membersihkan hati dari noda dosa, dan memperkuat hubungan batin dengan Sang Pencipta.

Puncak kesungguhan ibadah tersebut diriwayatkan Aisyah RA, bahwa Nabi SAW "mengencangkan ikat pinggang" (bersungguh-sungguh) dan membangunkan keluarganya untuk beribadah di fase ini. Membiasakan diri dan melatih diri menahan hawa nafsu dari godaan dunia dan fokus pada tujuan akhirat.

Tgk Husamuddin menyampaikan, setidaknya pada bulan Ramadan ini dapat mengkhatamkan Al-Qur'an satu kali dan ini sangat mungkin dilakukan dengan membaca 1 juz per hari atau sekitar 2-4 lembar setiap selesai shalat fardhu. Ini adalah amalan utama untuk meraih keutamaan bulan diturunkannya Al-Qur'an, menyucikan hati, dan mendapatkan pahala berlipat ganda.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....