Ceramah Subuh: Mempersiapkan Diri Bila Datang Kematian
- 13 Mar 2026 23:52 WIB
- Meulaboh
RRI.CO.ID, Meulaboh - Masjid Jamik Baiturrahim Gampong (Desa) Ujong Baroh Kecamatan Johan Pahlawan Kabupaten Aceh Barat kembali melaksanakan cermah subuh pada Ramadan Ke-22 tahun 2026 Masehi/1447 Hijriah. Ceramah diisi oleh Tgk. H. Tharmidhi, S.Ag., M.A dengan judul “Mempersiapkan Diri Bila Datang Kematian”.
Diawal ceramah Tgk Tharmidhi menyampaikan puji dan syukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT, masih diberikannya umur panjang, sehingga dapat beribadah pada bulan Ramadan, ini merupakan rahmat Allah kepada kita semua.
“Shalawat dan salam kepada junjungan alama Nabi Besar Muhammad SAW, dengan ucapan Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad artinya "Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad". Kata Tgk Tharmidhi dimimbar Masjid Jamik Baiturrahim.
| Baca juga: Disiplin dan Manajemen Waktu di Bulan Puasa |
Mudah-mudahan kita mendapatkan syafaat Nabi Muhammad SAW di hari kiamat adalah harapan setiap muslim, yang dapat diusahakan dengan ikhlas mentauhidkan Allah, memperbanyak shalawat, berdoa setelah adzan, serta meneladani akhlak beliau. Syafaat meliputi syafaat 'uzhma (di padang mahsyar) dan pertolongan bagi pelaku dosa besar.
Syafaat di yaumil akhir oleh Nabi Muhammad SAW adalah pertolongan atau perantaraan khusus dari Rasulullah kepada umatnya atas izin Allah SWT untuk meringankan beban, mempercepat hisab, atau memasukkan ke surga pada hari kiamat. Syafaat terbesar (Syafa'at 'Udzma) adalah mempercepat dimulainya pengadilan di padang Mahsyar.
Sejatinya, saat ditimbang (Mizan) di akhirat, seluruh amal perbuatan manusia selama di dunia baik sekecil biji sawi maupun sebesar gunung akan dihitung secara adil untuk menentukan nasib kekal di surga atau neraka.
“Bersholawat kepada Rasulullah SAW merupakan salah satu amalan yang sangat ringan di lisan namun memiliki bobot yang sangat berat dalam timbangan (mizan) di akhirat kelak” jelas Kata Tgk Tharmidhi.
Sholawat adalah salah satu zikir utama yang dapat memberatkan timbangan kebaikan seseorang, di samping kalimat tauhid dan zikir lainnya. Menurut penuturan Habib Umar bin Hafidz, satu sholawat dari Allah sebagai balasan atas sholawat hamba kepada Nabi SAW, nilainya lebih besar daripada seluruh amal kebaikan manusia secara keseluruhan.
Rutin bersholawat dapat mendekatkan diri kepada Rasulullah SAW di akhirat dan menjadi penyebab mendapatkan syafaat beliau, bahkan bagi mereka yang memiliki maksiat. Satu sholawat yang diucapkan seorang mukmin dibalas dengan sepuluh sholawat (rahmat) dari Allah SWT.
Ungkapan "Kehidupan itu Harus, tapi Kematian itu Wajib" (dalam bahasa Aceh sering dikaitkan dengan hadih maja atau pepatah leluhur) merupakan filosofi mendalam masyarakat Aceh tentang keseimbangan hidup dan takdir.
Terdapat dialog imajiner yang disusun berdasarkan hikmah dan pandangan Imam Syafi'i mengenai alam, ilmu, dan kebesaran Allah, yang sering kali menggunakan perumpamaan gunung yang menjulang tinggi. “Dialog ini menekankan pada kerendahan hati dalam menuntut ilmu, penguasaan nafsu, dan perumpamaan gunung sebagai simbol kokohnya keimanan dan ilmu yang bermanfaat” kata Tgk Tharmidhi.
Dipenghujung Ramadan (10 hari terakhir) terdapat hikmah besar, utama, dan mulia: menggapai Lailatul Qadar (malam lebih baik dari 1000 bulan), meningkatkan intensitas ibadah (i'tikaf, sedekah, Al-Qur'an), meraih ampunan dosa, pembebasan dari api neraka (itqun minan nar), serta momen muhasabah untuk menjadi pribadi bertakwa.
Diakhir ceramah Tgk Tharmidhi menyampaikan sebuah nasehat dari K.H. Muhammad Arifin Ilham yaitu "Hidup bukan untuk hidup tapi hidup untuk Maha Hidup, hidup bukan untuk mati tapi justru mati itulah kehidupan sebenarnya".
“Pesan ini mengingatkan untuk beribadah kepada Allah (Maha Hidup) dan mempersiapkan bekal akhirat karena kematian adalah pintu menuju kehidupan sejati” jelas Tgk Tharmidhi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....