Ceramah Subuh Puasa Memiliki Makna As-hiam dan As-haum

  • 21 Feb 2026 12:40 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Meulaboh - Masjid Jamik Baiturrahim Gampong (Desa) Ujong Baroh Kecamatan Johan Pahlawan Kabupaten Aceh Barat kembali melaksanakan cermah subuh pada Ramadan Ke-3 tahun 2026 Masehi/1447 Hijriah. Diisi oleh Ustad Tgk. H. Kamil Syafruddin, Lc., MA, dengan judul “Puasa Memiliki Makna As-hiam dan As-haum”.

Tgk Kamil mengawali ceramah dengan menyampaikan puji dan syukur kepda Allah SWT, dipertemukan kembali dibulan Ramadan tahun ini, dimana tidak didapatkan keistimewaan bulan Ramadan ini oleh umat-umat yang lain.

Tgk Kamil menceritakan, suatu hari saat Rasullullah SAW, naik keatas mimbar dianak tangga pertama Rasulullah mengucapkan kata aamien, anak tangga kedua juga mengatakan aamien dan berikutnya anak tangga ketiga Rasullullah juga mengucapkan kata aamien.

Selesai melaksanakan shalat, para sahabat bertanya kepada Nabi, ya Rasullullah, kenapa engkau mengatakan aamien sebanyak tiga kali, Rasullullah mengatakan kalian tidak mendengar apa yang aku dengar dan tidak melihat apa yang aku lihat, Nabi menyampaikan bahawa jibril baru saja menyampaikan tiga perkara.

Tgk Kamil melanjutkan ceritanya, salah satunya dari tiga perkara tersebut ialah celakalah bagi orang-orang yang mendapatkan bulan Ramadan, tetapi Allah tidak mengampunkan dosa-dosanya. Maka bulan Ramadan merupakan satu bulan yang sangat istimewa dimana dilipatgandakannya pahal, dikarnakan yang sunah bernilai wajib, yang wajib dikalikan tujuh puluh.

Allah SWT memberikan bulan Ramadan kepada kita, agar satu bulan ini sebagai pengontrol dari sebelas bulan yang lainnya, ketika Allah SWT mengatakan wahai orang-orang yang beriman, kalimat ini ditujkan kepada mereka yang beriman bukan kepada manusia, ketika iman tidak ada dalam diri kita maka panggilan tersebut tidak akan bermakna.

“Oleh karnanya apabila ada orang yang jelas-jelas terang-terangan melanggar bulan Ramadan, maka dalam syariat islam, orang tersebut akan ditangkap dan dipukul, malah dalam satu riwayat dikatakan harus dipukul sampai berderah, bergitulah kemuliaan dibulan Ramadan, oleh sebab itu panggilan tersebut dikususkan kepada mereka yang beriman” kata Tgk Kamil.

Kalimat puasa dalam ayat Surah Al-Baqarah ayat 183, Allah tekankan Shiam (menahan diri), sebab dalam puasa memiliki dua kalimat, yaitu As-shiam dan As-Shaum, terdapat perbedaan walaupun keduanya menahan diri, dimana As-shiam menahan dari segala sesuatu yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, memiliki aturan syariat tertentu, sedangkan As-shaum memiliki makna orang yang menahan diri tidak berbicara dengan orang lain.

Ketika Allah mengatakan diwajibkan atas kamu berpuasa, tidak sekedar menahan dari makan dan minum saja, tetapi harus dibarengi dengan As-shaum, apabila As-shaum diabaikan dikwatirkan bisa menyebabkan hilangnya pahala puasa, disebabkan tidak meninggalkan syahwatnya secara fisik, baik itu berbohong, menjaga tangan, menjaga mata, dan menjaga sesuatu yang berhubungan dengan fisik manusia itu sendiri, walupun perbuatan itu tidak membatalkan puasa.

Orang yang diperbolehkan meninggalkan puasa Ramadhan adalah mereka yang memiliki halangan syar'i, meliputi: orang sakit, musafir (perjalanan jauh), lansia renta, ibu hamil/menyusui, wanita haid/nifas, orang gila/hilang akal, dan orang dengan pekerjaan fisik yang teramat berat. Mereka wajib mengqadha (mengganti) puasa atau membayar fidyah sesuai kondisi.

Salah satu pendapat ulama, mereka yang meninggalkan puasa Ramadan harus mengqadhanya, bahkan ada pendapat lain ulama, apabila orang yang sengaja meninggalkan satu hari saja puasa wajib (Ramadan), harus mengqadha atau menggantikannya sepanjang masa.

“Sholat lima waktu tetap wajib dilakukan saat berpuasa Ramadan. Meskipun secara fiqih puasa seseorang tetap sah dan tidak batal jika tidak sholat (selama tidak mengingkari kewajibannya), namun ibadah puasa tersebut menjadi sia-sia, tidak bernilai pahala, dan dianggap tidak sempurna oleh Allah SWT” jelas Tgk Kamil.

Dalam sebuah hadist, nilai pahala dibulan Ramadan ini, ialah bagai orang yang mengerjakan umrah dibulan Ramadan memiliki nilai pahala setera dengan mengerjakan haji, dikarnakan terdapat dua kemulian, kemuliaan tempat dan kemuliaan waktu. Berikutnya nilai pahala yang didapatkan dibulan Ramadan ialah orang alim berilmu yang memahami agama Islam secara mendalam, selain mengamalkan ilmunya juga bijaksana dalam membimbing (mengajarkan) umat.

Diakhir ceramah Tgk Kamil menyampaikan, bahwa nilai pahala orang yang memberi makan untuk berbuka puasa kepada orang lain memiliki nilai pahala yang sangat besar, yaitu setara dengan pahala orang yang berpuasa, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Amalan ini merupakan wujud kasih sayang, jalan menuju surga, dan didoakan oleh malaikat serta orang yang menerima makanan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....