Ceramah Subuh: Kesabaran Rasulullah SAW sebagai Inspirasi Ramadan
- 08 Mar 2026 14:40 WIB
- Meulaboh
RRI.CO.ID, Meulaboh - Masjid Jamik Baiturrahim Gampong (Desa) Ujong Baroh Kecamatan Johan Pahlawan Kabupaten Aceh Barat kembali melaksanakan cermah subuh pada Ramadan Ke-18 tahun 2026 Masehi/1447 Hijriah. Tausiah diisi oleh Tgk. Syahwaluddin, S.Pd.I., M.A., dengan judul “Kesabaran Rasulullah SAW sebagai Inspirasi Ramadan”.
Diawal ceramah Tgk Syahwaluddin menyampaikan puji dan syukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT, seraya memohon diberikan kesabaran dalam ketaatan menjalankan perintah-Nya terutama dalam bulan suci ini, mendirikan shalat dimalammnya dan berpuasa pada siangnya.
“Tidak lupa bershalawat kepada baginda Rasullullah SAW, sebagai suri tauladan sehingga bisa mengambil pelajaran dari Rasullullah SAW, semestinya mencotoh dalam beribadah khususnya dalam bulan Ramadan ini” kata Tgk Syahwaluddin dimimbar masjid Jamik Baiturrahim.
Dimana Rasullullah SAW “Mengencangkan pinggang" pada 10 malam terakhir Ramadan bermakna Rasulullah SAW meningkatkan kesungguhan ibadah, menjauhkan diri dari urusan duniawi/istri, dan fokus beribadah penuh. Ini kiasan untuk persiapan maksimal mengejar Lailatul Qadar.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-baqarah ayat 45 berbunyi Wasta'īnū biṣ-ṣabri waṣ-ṣalāh(ti), wa innahā lakabīratun illā 'alal-khāsyi'īn(a). Artinya: “Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk”
“Al-Baqarah ayat 45 memerintahkan umat Muslim untuk menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong dalam menghadapi segala urusan. Ibadah shalat dirasakan berat, kecuali bagi orang-orang khusyuk yang meyakini pertemuan dengan Tuhan mereka” ungkap Tgk Syahwaluddin.
Diayat yang lain dalam Surah Al-Baqarah ayat 153, berbunyi Yā ayyuhallażīna āmanusta'īnū biṣ-ṣabri waṣ-ṣalāh, innallāha ma'aṣ-ṣābirīn. Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.”
Dalam tafsir dalaleh di jelaskan bahwa Allah SWT akan memberikan ujian kepada kita, terutama kepada orang-orang yang beriman, Allah SWT perintahkan kepada kita untuk senantiasa meminta pertolongan kepada-Nya dengan sabar dan shalat.
Didalam riwayat sirahnabawiah paska meninggalnya Khatijah istri Rasullullah dan paman Nabi Abu Thaleb, Rasullullah SAW mengalami cobaan yang begitu berat, dakwahnya ditolak di Mekkah, bahkan Rasullullah mulai mendapatkan serangan secara fisik.
Dakwah Nabi tidak lagi berkembang di Mekkah, bahkan banyak pengikut Nabi yang mengalami siksaan, pasca meninggalnya Khatijah dan Paman Nabi” kata Tgk Syahwaluddin.
Maka kemudian pada sepuluh tahun kenabian Nabi Muhammad SAW berdakwah ketempat lain, Nabi hijrah ke Thaif pada tahun ke-10 kenabian (sekitar 619 M) didampingi Zaid bin Haritsah untuk mencari dukungan dakwah namun, penduduk Thaif menolak, menghina, dan melempari Nabi dengan batu hingga terluka, memaksa beliau kembali ke Makkah.
Sebelum Rasulluha meninggalkan Thaif, Rasullullah berdoa kepada Allah SWT, "Allahumma ilaika asykuu dha'fa quwwatii, wa qillata hiilatii, wa hawaanii 'alan naas. Ya Arhamar Raahimiin, Anta Rabbul Mustadh'afiina, wa Anta Rabbii. Ilaa man takilunii? Ilaa ba'iidin yatajahhamunii? Am ilaa 'aduwwin mallaktahu amrii? In lam takun ghadhbaana 'alayya fa laa ubaalii, ghaira anna 'aafiyataka awsa'u lii. A'uudzu binuuri wajhikalladzii asyraqat lahuz zhulumaatu, wa shaluha 'alaihi amrud dun-yaa wal aakhirati. An yanzila bii ghadhabuka, aw yahilla bii sakhathuka. Lakaal 'utbaa hattaa tardhaa, wa laa haula wa laa quwwata illa bika."
Arti doanya: "Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kekurangan daya upayaku, dan kehinaanku di hadapan manusia. Wahai Tuhan Yang Maha Rahim, Engkau adalah Tuhan orang-orang yang tertindas, dan Engkau adalah Tuhanku.
Kepada siapa Engkau serahkan diriku? Kepada orang jauh yang mengerutkan wajah kepadaku? Ataukah kepada musuh yang Engkau kuasakan atas urusanku?
Selama Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli, namun (saya berharap) perlindungan-Mu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang menyinari kegelapan dan memperbaiki urusan dunia serta akhirat, dari kemurkaan-Mu atau kemarahan-Mu yang ditimpakan kepadaku. Kepada-Mu lah aku pasrah sampai Engkau ridha. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan-Mu."
Ketika Rasullullah SAW ditawarkan oleh Malaikat Jibril dan malaikat penjaga gunung untuk membalikkan Gunung Akhsyabin untuk menghancurkan penduduk Thaif, Nabi SAW justru menjawab: "Jangan. Siapa tahu Allah akan mengeluarkan seseorang yang mengucapkan (kalimat) 'la ilaha illallah' dari rahim mereka", dan beliau berdoa: "Ya Allah, berilah hidayah kepada kaumku, karena mereka tidak mengetahui".
“Doa ini menunjukkan tingkat kesabaran, ketawakalan, dan kasih sayang Nabi Muhammad SAW yang luar biasa, bahkan saat diperlakukan dengan kejam” jelas Tgk Syahwaluddin.
Potongan Surah Al-Ankabut ayat 3 berbunyi “maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta". Ayat ini menegaskan bahwa setiap orang yang beriman akan diuji untuk membuktikan kejujuran imannya. Orang-orang yang beriman ketika mendapatkan ujian dari Allah SWT, maka dia akan meminta pertolongan kepada Allah, dengan sabar dan shalat, terbukti pada umat-umat terdahulu.
Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali membagi sabar menjadi tiga bagian utama berdasarkan hubungannya dengan ketaatan kepada Allah, yaitu: pertama sabar dalam menjalankan ketaatan (ibadah), kedua sabar dalam menjauhi kemaksiatan (larangan), dan ketiga sabar dalam menghadapi musibah/cobaan. Ketiga jenis sabar ini menjadi landasan keteguhan iman seseorang.
Sabar adalah menahan diri dari keluh kesah, amarah, dan putus asa saat menghadapi ujian, dengan tetap taat serta yakin akan hikmah Allah. Ia merupakan kombinasi antara keteguhan hati, berbaik sangka (husnuzan) bahwa takdir Allah adalah yang terbaik, dan terus berusaha tanpa berprasangka buruk pada-Nya.
| Baca juga: Disiplin dan Manajemen Waktu di Bulan Puasa |
Makna sabar dan berbaik sangka kepada Allah SWT, secara bahasa, sabar berarti menahan. Secara istilah, sabar adalah kemampuan mengendalikan diri, menahan lisan dari mengeluh, menahan hati dari marah, serta menahan anggota tubuh dari tindakan tidak pantas saat ditimpa kesulitan.
Berbaik sangka (Husnuzan), keyakinan hati bahwa Allah pasti memberikan yang terbaik, di mana setiap kejadian memiliki hikmah, serta Allah tidak mungkin menzalimi hamba-Nya.
Hubungan sabar dan baik sangka, sabar bukan sekadar diam, melainkan bertahan dalam ketaatan dan prasangka baik kepada Allah saat ujian melanda. Sabar dan baik sangka (husnuzan) adalah kombinasi yang melahirkan ketenangan jiwa, menghindarkan dari sifat putus asa, dan membuahkan pertolongan Allah.
Penerapan mengucap istirja ("Innalillahi wa inna ilaihi raji'un"), tidak meratapi nasib secara berlebihan, dan yakin bahwa pertolongan akan datang di waktu yang tepat.
Menurut Imam Al-Ghazali, takwa (yang sering disandingkan dengan makna kepatuhan/imam) memiliki 3 makna mendalam dalam konteks spiritual, yang pertama Tasdiq bi al-Qalb (Membenarkan dalam hati): Keyakinan yang teguh di dalam hati tanpa keraguan sedikitpun. Ini adalah fondasi utama.
Kedua Iqrar bi al-Lisan (Mengucapkan dengan lisan): Mengucapkan kalimat syahadat atau ikrar keimanan sebagai pernyataan resmi keislaman.
Ketiga Amal bi al-Arkan (Mengamalkan dengan anggota badan): Merealisasikan keyakinan tersebut dalam bentuk perbuatan nyata (ketaatan dan ibadah) dalam kehidupan sehari-hari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....