Anak Muda, Anxiety, dan “Play Victim”: Apa yang Sebenarnya Terjadi ?
- 26 Agt 2026 12:30 WIB
- Meulaboh
RRI.CO.ID, Meulaboh - Istilah anxiety dan play victim semakin sering muncul dalam percakapan sehari-hari, terutama ketika membahas kehidupan generasi muda. Di media sosial, anak muda yang terlihat cemas, mudah khawatir, atau sering menceritakan masalah pribadi terkadang langsung mendapat label tertentu.
Namun, fenomena tersebut tidak sesederhana anggapan bahwa generasi muda sekarang “terlalu lemah” atau “suka mencari perhatian”. Di balik perilaku yang terlihat di permukaan, terdapat berbagai faktor psikologis dan sosial yang perlu dipahami dengan lebih hati-hati.
- Tekanan Hidup yang Semakin Kompleks
Anak muda saat ini menghadapi berbagai tekanan, mulai dari pendidikan, pekerjaan, hubungan sosial, kondisi ekonomi, hingga tuntutan untuk menentukan masa depan sejak usia muda.
Di saat yang sama, media sosial membuat seseorang dapat terus membandingkan dirinya dengan kehidupan orang lain. Melihat teman yang tampak sukses, memiliki karier bagus, bepergian, atau mencapai target tertentu dapat menimbulkan perasaan tertinggal.
Padahal, apa yang terlihat di media sosial biasanya hanya sebagian kecil dari kehidupan seseorang.
- Ketika Rasa Cemas Menjadi Berlebihan
Rasa cemas sebenarnya merupakan respons normal ketika seseorang menghadapi tekanan atau situasi yang dianggap mengancam. Masalah muncul ketika kecemasan menjadi sangat kuat, berlangsung terus-menerus, atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Karena itu, tidak semua orang yang merasa cemas dapat langsung disebut mengalami gangguan kecemasan. Diagnosis kondisi kesehatan mental sebaiknya dilakukan oleh tenaga profesional, bukan berdasarkan unggahan media sosial atau penilaian orang lain.
- Lalu, Apa Itu “Play Victim”?
Istilah play victim biasanya digunakan untuk menggambarkan seseorang yang dianggap terus menempatkan dirinya sebagai korban dalam suatu masalah dan menghindari tanggung jawab.
Namun, penggunaan istilah ini juga perlu hati-hati. Seseorang yang menceritakan pengalaman buruk, meminta dukungan, atau mengungkapkan perasaannya tidak otomatis berarti sedang “bermain sebagai korban”.
Dalam beberapa situasi, seseorang memang bisa menggunakan posisi sebagai korban untuk menghindari tanggung jawab. Tetapi dalam situasi lain, ia mungkin benar-benar sedang mengalami masalah dan belum mengetahui cara menghadapinya.
- Media Sosial Membuat Semuanya Terlihat Lebih Besar
Media sosial membuat pengalaman pribadi lebih mudah dibagikan dan diperbincangkan. Akibatnya, masalah yang dahulu mungkin hanya diketahui oleh lingkungan terdekat kini dapat menjadi konsumsi publik.
Algoritma media sosial juga cenderung mempertemukan pengguna dengan konten yang sesuai dengan minat dan perilaku mereka. Seseorang yang sering melihat konten tentang kecemasan, misalnya, dapat semakin sering menemukan konten serupa.
Hal tersebut dapat membantu seseorang merasa tidak sendirian. Namun, di sisi lain, informasi kesehatan mental yang tidak tepat juga dapat membuat orang melakukan self-diagnosis tanpa pemahaman yang memadai.
- Bukan Generasi Lemah, tetapi Generasi yang Lebih Terbuka
Salah satu perubahan penting adalah semakin terbukanya pembicaraan mengenai kesehatan mental. Anak muda kini lebih berani membicarakan perasaan, tekanan, dan pengalaman pribadi dibandingkan generasi sebelumnya.
Keterbukaan tersebut tidak selalu berarti jumlah masalah psikologis pasti meningkat hanya karena lebih banyak orang membicarakannya. Sebagian kasus yang dahulu tidak dibicarakan atau tidak dikenali kini mungkin lebih terlihat karena kesadaran masyarakat meningkat.
Karena itu, daripada terburu-buru memberi label “lemah”, “baper”, atau play victim, penting untuk melihat situasi secara lebih objektif.
- Belajar Bertanggung Jawab Tanpa Mengabaikan Perasaan
Memahami kesehatan mental bukan berarti membenarkan semua perilaku. Seseorang tetap perlu belajar bertanggung jawab atas tindakan dan keputusan yang dibuatnya.
Di sisi lain, meminta bantuan ketika menghadapi tekanan bukanlah tanda kelemahan. Ada perbedaan antara menghindari tanggung jawab dan mengakui bahwa diri sendiri sedang kesulitan.
Pada akhirnya, generasi muda tidak membutuhkan lebih banyak label, tetapi lingkungan yang mampu membedakan antara seseorang yang membutuhkan dukungan dan seseorang yang memang perlu belajar bertanggung jawab.
Membicarakan kesehatan mental bukan berarti mencari alasan. Begitu pula menghadapi masalah bukan berarti harus selalu terlihat kuat. Yang terpenting adalah belajar memahami diri, bertanggung jawab, dan mencari bantuan yang tepat ketika diperlukan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....