Pelabuhan Babo Hadirkan Asa Baru bagi Pedagang Kecil
- 07 Agt 2026 21:44 WIB
- Manokwari
RRI.CO.ID, Bintuni – Selama setahun terakhir Sulastri harus menyeberang menggunakan perahu kecil hanya untuk menjajakan nasi kuning dan kue kepada penumpang kapal di Pelabuhan Babo, Kabupaten Teluk Bintuni. Setiap kali menaiki longboat menuju kapal yang berjarak ratusan meter dari daratan, ada biaya tambahan yang harus dibayar dan risiko keselamatan yang selalu menghantui.
Kini harapan baru hadir bagi dirinya dan pedagang lainnya. Pembangunan Pelabuhan Babo yang dimulai melalui peletakan batu pertama pada Rabu, 5 Agustus 2026, menjadi kabar yang paling ditunggu masyarakat Distrik Babo, terutama mereka yang menggantungkan hidup dari aktivitas pelabuhan.
Sulastri, yang telah berjualan sejak 1999, mengaku pembangunan pelabuhan tersebut akan sangat membantu para pedagang kecil yang selama ini harus menggunakan perahu untuk mencapai kapal.
"Kalau mau jualan di kapal kami harus naik perahu. Selain keluar ongkos, kami juga harus menghadapi risiko di laut. Dengan adanya pelabuhan yang baru, kami berharap bisa berjualan dengan lebih aman dan mudah," ujar Sulastri.
Menurutnya, biaya transportasi menggunakan perahu mencapai Rp10 ribu sekali jalan. Beban itu semakin bertambah ketika ia harus membawa anak-anak ikut bersamanya.
"Kami bersyukur pembangunan ini akhirnya terlaksana. Ini bukan hanya soal pelabuhan, tetapi juga soal keselamatan dan kemudahan mencari nafkah bagi masyarakat kecil," katanya.
Hal senada disampaikan Sarafia Bauw. Pedagang yang mulai berjualan di kawasan pelabuhan sejak 2012 itu mengaku selama ini harus mengeluarkan biaya tambahan untuk menuju kapal yang bersandar di perairan Babo. Ia bahkan mengingat pengalaman ketika cuaca dan gelombang laut membuat perjalanan menuju kapal menjadi sangat berbahaya.
"Kami terima kasih kepada pemerintah daerah karena sudah memperhatikan kebutuhan masyarakat," ungkap Sarafia.
Selain biaya transportasi, para pedagang juga menghadapi kenaikan harga bahan makanan dan perlengkapan usaha. Di sisi lain, hasil jualan tidak selalu menentu karena kapal penumpang hanya datang sekitar satu kali dalam sepekan.
Meski demikian, aktivitas Speedboat dari BP tangguh yang melintas setiap hari tetap menjadi sumber harapan bagi para pedagang untuk memperoleh penghasilan tambahan. Mereka terkadang mampir memberi kopi, teh atau mie instan.
"Ada yang mampir sedikit-sedikit, kebanyakan pesan popmie," katanya.
Sarafia berharap pembangunan pelabuhan yang ditargetkan selesai dalam satu tahun itu dapat membuka peluang ekonomi yang lebih baik bagi masyarakat lokal. Ia berharap ada penempatan khusus lapak pedagang lokal sehingga terlihat lebih rapi.
"Kami berharap setelah pelabuhan selesai dibangun ada tempat atau lapak khusus untuk pedagang lokal. Dengan begitu kami bisa berjualan lebih nyaman dan pendapatan masyarakat juga meningkat," harapnya.
Pembangunan Pelabuhan Babo menjadi salah satu upaya Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni untuk meningkatkan konektivitas transportasi laut sekaligus memperkuat aktivitas ekonomi masyarakat pesisir.
Bagi para pedagang kecil, proyek tersebut bukan sekadar pembangunan infrastruktur, melainkan harapan untuk bekerja dengan lebih aman, lebih mudah, dan lebih sejahtera.
Diketahui pelabuhan Babo mengalami kerusakan sejak Januari 2024. Di mana saat itu jembatan tempat sandar kapal ambruk karena terkikis oleh air. Sejak itu semua kapal yang masuk ke Babo tidak bisa sandar di jembatan karena selain dangkal tidak ada lagi tempat kapal bersandar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....