Nilai Keagamaan Dinilai Jadi Kunci Hadapi Tantangan Pembangunan Papua
- 06 Agt 2026 11:03 WIB
- Manokwari
RRI.CO.ID, Manokwari - Berbagai tantangan pembangunan di Papua Barat, mulai dari persoalan sosial hingga derasnya perkembangan teknologi, dinilai perlu dihadapi dengan memperkuat nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan masyarakat. Penguatan karakter berbasis agama dianggap menjadi salah satu modal penting untuk menjaga persatuan sekaligus mendorong kemajuan daerah.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Papua Barat, Mulyadi Jaya pada Rabu, 3 Agustus 2026, menilai pembangunan Papua tidak hanya bergantung pada kemajuan fisik, tetapi juga memerlukan penguatan nilai-nilai agama sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat. Menurutnya, ajaran agama harus menjadi pedoman dalam menghadapi berbagai tantangan sosial yang terus berkembang.
Ia mengatakan Papua masih dihadapkan pada berbagai persoalan, mulai dari kemiskinan, kesenjangan pembangunan, akses pendidikan dan layanan kesehatan yang belum merata, hingga persoalan sosial lainnya. Di sisi lain, perkembangan teknologi digital dan arus globalisasi juga menghadirkan tantangan baru yang perlu disikapi secara bijaksana.
Menurutnya, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi memang membuka banyak peluang, namun tanpa diimbangi penguatan nilai spiritual dapat memengaruhi kehidupan sosial masyarakat. Karena itu, seluruh pemuka agama diharapkan mampu menjadi penggerak dalam membangun karakter masyarakat yang tetap berpegang pada nilai-nilai kemanusiaan.
"Kemajuan ilmu pengetahuan memang membuka banyak peluang, tetapi juga dapat mengikis nilai-nilai kemanusiaan, persaudaraan, dan moderasi beragama apabila tidak dibimbing oleh nilai-nilai spiritual dari agama-agama itu," jelasnya.
Ia menilai rumah ibadah memiliki peran penting sebagai pusat pembinaan masyarakat. Selain menjadi tempat beribadah, masjid, gereja, dan rumah ibadah lainnya diharapkan mampu mencetak generasi yang jujur, toleran, cinta ilmu pengetahuan, peduli terhadap lingkungan, serta memiliki semangat membangun daerah.
Mulyadi juga mengajak seluruh tokoh agama untuk memperkuat kolaborasi lintas agama dalam menjawab berbagai persoalan pembangunan di Papua Barat. Menurutnya, kerja sama tersebut akan memperkuat persaudaraan sekaligus menghadirkan solusi bagi masyarakat.
Ia berharap momentum peringatan 666 Tahun Masuknya Agama Islam di Tanah Papua menjadi pengingat bahwa agama harus menjadi sumber inspirasi dalam membangun kehidupan yang damai, adil, dan sejahtera. Dengan menjadikan nilai-nilai keagamaan sebagai landasan pembangunan, Papua Barat diyakini mampu menghadapi tantangan masa depan tanpa kehilangan semangat persatuan dan toleransi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....