Teluk Bintuni Tuai Pujian, Pesparani IV Jadi Simbol Harmoni Lintas Iman
- 08 Jul 2026 11:33 WIB
- Manokwari
RRI.CO.ID, Bintuni – Kabupaten Teluk Bintuni menuai apresiasi sebagai tuan rumah Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Katolik IV Tingkat Provinsi Papua Barat. Tidak hanya dinilai sukses dalam penyelenggaraan, daerah ini juga menunjukkan wajah toleransi dan persaudaraan lintas agama yang mendapat pujian dari berbagai pihak.
Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam pelaksanaan Pesparani IV adalah penunjukan Wakil Bupati Teluk Bintuni, Joko Lingara, yang beragama Islam, sebagai Ketua Umum Panitia. Sementara sang istri, Nurdina Lingara, dipercaya menjadi Ketua Kontingen Kabupaten Teluk Bintuni. Kehadiran keduanya menjadi simbol nyata harmoni antarumat beragama yang tumbuh di Teluk Bintuni dan mendapat apresiasi saat acara pembukaan Pesparani yang berlangsung pada Selasa, 7 Juli 2026.
Uskup Keuskupan Manokwari-Sorong, Mgr. Hilarion Datus Lega, menyampaikan rasa terima kasih kepada Joko Lingara bersama seluruh panitia atas dedikasi mereka dalam mempersiapkan pesta seni suara liturgi umat Katolik tersebut.
"Saya haturkan banyak terima kasih kepada Bapak Joko Lingara dan segenap panitia. Semoga seluruh rangkaian kegiatan berlangsung lancar, aman, damai, tenteram, serta menghasilkan buah yang baik bagi pembinaan dan pengembangan paduan suara gerejani Katolik," ujarnya.
Uskup juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni yang dinilai memberikan sambutan hangat serta dukungan penuh terhadap penyelenggaraan Pesparani.
"Atas nama Keuskupan Manokwari-Sorong saya menyampaikan terima kasih kepada Bupati, Wakil Bupati, dan seluruh jajaran pemerintah sebagai tuan rumah yang memberikan penerimaan begitu mempesona serta dukungan yang sangat membanggakan," katanya.
Ia turut mengucapkan selamat kepada seluruh kontingen dari enam kabupaten di Papua Barat yang mengikuti Pesparani IV, termasuk para peserta, pendamping, ketua kontingen, pastor, dan para pembina.
Apresiasi juga datang dari Ketua LP3KN Pusat, Yohanes Kurnianto Jeharut. Menurutnya, kisah persaudaraan yang lahir dari Pesparani perlu diketahui masyarakat luas sebagai kabar baik dari Papua Barat.
"Semoga cerita baik yang kita lakukan di sini didengar banyak orang. Kita tidak hanya disuguhi berita tentang kekerasan atau pembunuhan, tetapi juga kisah persaudaraan, kehangatan, dan keindahan seni yang kita bagikan bersama," ungkapnya.
Sementara itu, Bupati Teluk Bintuni, Yohanis Manibuy, menegaskan bahwa Pesparani bukan hanya perayaan iman umat Katolik, tetapi juga momentum memperkuat persaudaraan dalam keberagaman.
"Memuliakan Tuhan tidak berhenti di altar gereja. Kemuliaan Tuhan akan tampak ketika masyarakat saling menghormati, saling menjaga, saling menguatkan, dan saling mengasihi dalam keberagaman. Karena itu, Pesparani kali ini bukan hanya pesta umat Katolik, melainkan pesta persaudaraan seluruh masyarakat Teluk Bintuni," katanya.
Menurut Yohanis, sejak awal persiapan hingga pelaksanaan kegiatan, semangat toleransi tumbuh dengan indah. Masyarakat dari berbagai agama, suku, dan budaya bergotong royong menyukseskan Pesparani agar seluruh tamu merasakan kehangatan Teluk Bintuni.
Ia mencontohkan penampilan tarian dan musik yang dipersembahkan masyarakat Muslim di Kampung Sisar Matiti sebagai wujud nyata kebersamaan.
"Bagi sebagian orang mungkin itu hanya pertunjukan budaya. Namun bagi kami, itulah wajah Teluk Bintuni yang sesungguhnya. Ketika umat Katolik menggelar pesta iman, saudara-saudara Muslim ikut menyambut dengan penuh sukacita," ujarnya.
Pesparani Katolik IV Papua Barat diharapkan menjadi momentum untuk menunjukkan kepada masyarakat luas bahwa Papua Barat memiliki wajah kerukunan yang kuat. Melalui seni, budaya, dan iman, Teluk Bintuni membuktikan bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekuatan untuk membangun persaudaraan dan kedamaian.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....