Musim Kemarau, Warga SP 3 Bintuni Terpaksa Beli Air Bersih
- 04 Agt 2026 07:41 WIB
- Manokwari
RRI.CO.ID, Bintuni – Musim kemarau yang melanda Kabupaten Teluk Bintuni mulai berdampak pada ketersediaan air bersih bagi masyarakat. Di Kampung Bumi Saniari (SP 3), Distrik Manimeri, warga terpaksa membeli air tangki untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari karena sumur-sumur warga mengering.
Kondisi tersebut telah berlangsung sekitar satu bulan terakhir dan semakin membebani ekonomi masyarakat yang harus bergotong royong mengumpulkan dana untuk membeli pasokan air.
Kepala Kampung Bumi Saniari, Suharto Sangadji, mengatakan hingga saat ini warga hanya mengandalkan air hujan sebagai sumber utama kebutuhan rumah tangga. Saat curah hujan menurun, sumur galian yang ada tidak mampu menyimpan air dalam waktu lama.
"Sudah kurang lebih satu bulan masyarakat mengalami kesulitan air bersih. Selama ini warga berinisiatif membeli air tangki secara patungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," ujar Suharto, Senin, 3 Agustus 2026.
Menurutnya, harga satu tangki air berkapasitas 1.000 liter berkisar antara Rp400 ribu hingga Rp500 ribu. Biaya tersebut biasanya ditanggung bersama oleh tiga hingga empat kepala keluarga.
Suharto berharap pemerintah daerah maupun Pemerintah Provinsi Papua Barat dapat memberikan perhatian terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat, mengingat keterbatasan sumber air di wilayah tersebut.
"Kami sangat berharap ada dukungan pemerintah karena sumber air di kampung ini memang sangat terbatas. Masyarakat hanya mengandalkan air hujan, sementara saat kemarau seperti sekarang kondisi menjadi sangat sulit," katanya.
Ia menjelaskan, sumur galian yang dibuat warga hanya mampu menampung air selama beberapa hari setelah hujan turun. Ketika hujan tidak turun dalam waktu lama, debit air di sumur cepat menyusut hingga akhirnya mengering.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk mencari sumber air alternatif, termasuk pengeboran sumur hingga kedalaman lebih dari 100 meter. Namun, usaha tersebut belum membuahkan hasil karena tidak ditemukan sumber air bawah tanah yang memadai bahkan yang keluar adalah gas alam.
"Kami pernah melakukan pengeboran lebih dari 20 meter bahkan sampai sekitar 130 meter. Namun yang ditemukan justru gas, sehingga sumur bor terpaksa ditutup kembali karena tidak mengeluarkan air," ungkapnya.
Fenomena kekeringan tidak hanya dirasakan warga Kampung Bumi Saniari. Sejumlah kampung lain di Kabupaten Teluk Bintuni juga menghadapi kondisi serupa akibat musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga September mendatang.
Selain menyebabkan krisis air bersih, cuaca panas ekstrem juga meningkatkan risiko kebakaran lahan. Dalam sebulan terakhir, Polres Teluk Bintuni telah beberapa kali melakukan pemadaman kebakaran lahan di sejumlah titik, termasuk di kawasan Jalan Tisay dan Kampung Tuasai, Distrik Bintuni Timur.
Pemerintah dan masyarakat pun diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak musim kemarau, baik terkait ketersediaan air bersih maupun potensi kebakaran lahan yang dapat mengancam lingkungan dan keselamatan warga.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....