Muhammadiyah Dinilai Perkuat Semangat Toleransi di Tanah Papua

  • 29 Mei 2026 03:38 WIB
  •  Manokwari

RRI.CO.ID, Manokwari - Sekretaris Daerah Papua Barat, Ali Baham Temongmere, menegaskan bahwa pembangunan di Papua Barat harus dilandasi semangat budaya dan religi sebagai kekuatan pemersatu masyarakat di tanah Papua.

Hal itu disampaikannya saat menghadiri peresmian dan kegiatan pendidikan Muhammadiyah di Manokwari pada Kamis, 28 Mei 2026. Menurutnya, Papua Barat memiliki sejarah panjang masuknya agama-agama besar yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat hingga saat ini.

“Membangun di Papua Baratni adalah semangat dengan peningkatan budaya dan religi. Di tanah Papua, khususnya di enam provinsi di Papua, agama-agama besar pertama kali masuk melalui Papua Barat. Ini kekuatan besar yang harus kita jaga bersama,” ujar Temongmere.

Ia menjelaskan, sejarah masuknya agama-agama di Papua menunjukkan kuatnya nilai toleransi dan persaudaraan antarmasyarakat. Pada tahun 1855 agama Protestan masuk melalui Pulau Mansinam dan melahirkan peradaban baru di tanah Papua.

“1855 Protestan masuk di Pulau Mansinam. Itu menjadi kota Injil bagi tanah Papua,” katanya.

Selain itu, pemerintah daerah juga baru menghadiri peringatan 132 tahun masuknya agama Katolik di tanah Papua. Sementara pada 8 Agustus mendatang akan diperingati masuknya agama Islam di Fakfak pada tahun 1360.

Menurut Temongmere, sejarah tersebut menunjukkan bahwa hubungan antarumat beragama di Papua telah terjalin erat sejak dahulu. Ia mencontohkan masuknya agama Protestan di Manokwari yang turut diantar oleh nakhoda beragama Islam, hingga penerimaan umat Katolik di Fakfak yang disambut masyarakat Muslim dengan penuh penghormatan.

“Kalau Protestan masuk di Manokwari diantar oleh perahu-perahu yang dinakhodai seorang Muslim, maka di Fakfak umat Islam juga menerima kedatangan Katolik dengan penuh penghormatan. Inilah nilai-nilai dasar yang harus terus kita bangun,” ungkapnya.

Temongmere juga memberikan apresiasi kepada Muhammadiyah yang dinilai berhasil menghadirkan pendidikan inklusif di Papua Barat. Ia menyebut sebagian besar peserta didik berasal dari orang asli Papua dengan latar belakang agama yang beragam.

“Hari ini Muhammadiyah telah mewujudkan itu. Di sini hampir mayoritas keluarga besar orang asli Papua dan bukan beragama Islam. Ini hal yang luar biasa,” katanya.

Ia berharap pola pendidikan yang dibangun Muhammadiyah dapat menjadi contoh dalam merajut kebersamaan dan toleransi antarumat beragama di Papua Barat maupun daerah lain di Indonesia.

“Oleh karena itu, apa yang digagas Muhammadiyah perlu kita dukung bersama. Agama adalah kekuatan, tetapi kalau tidak dirajut dengan baik juga bisa menjadi sumber keretakan,” ujarnya.

Mengakhiri sambutannya, Temongmere menyampaikan pesan pembangunan Papua Barat dengan semangat persatuan dan kasih.

“Membangun dengan hati, mempersatukan dengan kasih menuju Papua Barat yang aman, sejahtera, bermartabat, dan mandiri,” tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....