Aquaphobia, Ketakutan yang Sulit Dijelaskan

  • 08 Sep 2026 13:02 WIB
  •  Manokwari

RRI.CO.ID, Manokwari – Bagi sebagian orang, berenang di pantai, bermain di kolam renang, atau sekadar menaiki perahu merupakan aktivitas yang menyenangkan. Namun bagi penderita aquaphobia, keberadaan air justru dapat memicu rasa takut yang sangat kuat dan sulit dikendalikan.

Aquaphobia adalah gangguan kecemasan berupa ketakutan berlebihan terhadap air. Cleveland Clinic menjelaskan bahwa kondisi ini termasuk dalam kategori fobia spesifik yang dapat membuat seseorang merasa panik saat berada di dekat air, bahkan meskipun situasinya sebenarnya aman.

Ketakutan tersebut tidak selalu berkaitan dengan laut atau perairan dalam. Sebagian penderita merasa cemas saat berada di kolam renang, sungai, danau, bahkan saat mandi atau melihat genangan air yang luas. Tingkat ketakutannya pun berbeda-beda pada setiap orang.

Banyak kasus aquaphobia berawal dari pengalaman traumatis, seperti hampir tenggelam, pernah melihat orang lain mengalami kecelakaan di air, atau mendapat cerita menakutkan tentang perairan sejak kecil. Pengalaman tersebut dapat meninggalkan jejak emosional yang membuat otak mengaitkan air dengan bahaya.

Saat berhadapan dengan sumber ketakutannya, penderita aquaphobia dapat mengalami berbagai gejala fisik. Healthline mencatat gejala yang umum muncul meliputi jantung berdebar, napas pendek, tubuh gemetar, berkeringat, pusing, hingga serangan panik. Dalam kondisi tertentu, rasa takut tersebut bisa membuat seseorang menghindari aktivitas sehari-hari yang berkaitan dengan air.

Meski sering dianggap sebagai ketakutan biasa, aquaphobia dapat memengaruhi kualitas hidup. Seseorang mungkin menolak bepergian menggunakan kapal, menghindari wisata pantai, atau enggan mengikuti pelajaran berenang meskipun kemampuan tersebut penting untuk keselamatan diri.

Kabar baiknya, aquaphobia dapat ditangani melalui berbagai metode terapi. Mayo Clinic menjelaskan bahwa terapi perilaku kognitif (Cognitive Behavioral Therapy/CBT) dan terapi paparan bertahap (exposure therapy) menjadi pendekatan yang paling umum digunakan. Melalui proses tersebut, penderita dibantu untuk mengenali sumber ketakutannya dan menghadapi air secara perlahan dalam lingkungan yang aman.

Para psikolog menilai bahwa keberhasilan terapi tidak berarti menghilangkan rasa takut sepenuhnya, melainkan membantu seseorang mengendalikan kecemasan sehingga tidak lagi mengganggu aktivitas sehari-hari.

Aquaphobia bukanlah tanda kelemahan atau kurangnya keberanian. Kondisi ini merupakan gangguan kecemasan yang nyata dan dapat dialami siapa saja. Dengan pemahaman yang tepat serta bantuan profesional, banyak penderita berhasil mengurangi ketakutannya dan kembali menikmati aktivitas yang berhubungan dengan air.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....