TB pada Anak, Mengenal Faktor Risiko dan Gejalanya

  • 05 Agt 2026 18:33 WIB
  •  Manado

Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu penyakit menular yang perlu mendapat perhatian serius, termasuk pada kelompok anak-anak. Penyakit yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis ini kerap sulit dikenali pada anak karena gejalanya tidak selalu khas dan berkembang secara perlahan.

Dikutip dari informasi kesehatan Siloam Hospitals, keterlambatan diagnosis dan penanganan dapat meningkatkan risiko komplikasi serius. Karena itu, orang tua diimbau mengenali gejala sejak dini agar anak segera memperoleh pemeriksaan dan pengobatan yang tepat.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan sekitar 10,7 juta orang di dunia menderita tuberkulosis sepanjang 2024. Dari jumlah tersebut, sekitar 1,2 juta merupakan anak-anak. Sementara berdasarkan Global TB Report 2024, Indonesia mencatat sekitar 135 ribu kasus TB pada anak usia 0–14 tahun.

TB pada anak dapat menyerang paru-paru maupun organ lain, seperti kelenjar getah bening, tulang, hingga selaput otak atau TB ekstra paru. Meski demikian, TB paru masih menjadi bentuk penyakit yang paling banyak ditemukan.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Asian Pacific Journal of Tropical Medicine tahun 2023 menyebutkan anak berusia di bawah 15 tahun menjadi kelompok yang paling rentan terhadap TB. Kasus terbanyak ditemukan pada anak usia di bawah lima tahun serta remaja berusia di atas 10 tahun.

Pada balita, infeksi TB memiliki risiko lebih tinggi berkembang menjadi bentuk yang berat, seperti TB diseminata dan TB meningitis. Kondisi tersebut dapat mengancam keselamatan jiwa apabila tidak segera ditangani.

TB menyebar melalui percikan droplet saat penderita TB aktif batuk, bersin, atau berbicara. Droplet yang mengandung bakteri kemudian terhirup dan masuk ke paru-paru, sebelum berkembang biak di jaringan paru.

Sejumlah faktor meningkatkan risiko anak tertular TB, di antaranya lahir dengan berat badan rendah, belum memperoleh imunisasi BCG, tinggal serumah dengan penderita TB aktif, hingga berada di lingkungan padat penduduk dengan ventilasi dan pencahayaan yang kurang baik. Anak dengan daya tahan tubuh rendah akibat gizi kurang atau malnutrisi juga memiliki risiko lebih besar mengalami infeksi.

Secara umum, TB pada anak dibedakan menjadi TB laten dan TB aktif. Pada TB laten, anak tidak menunjukkan gejala meski bakteri berada di dalam tubuh. Sebaliknya, TB aktif umumnya ditandai batuk lebih dari dua minggu yang tidak kunjung membaik, penurunan berat badan tanpa sebab jelas, serta keringat berlebih pada malam hari.

Gejala lain yang dapat muncul meliputi demam ringan berkepanjangan, sesak napas, pembengkakan kelenjar getah bening di leher, hingga pembesaran hati dan limpa. Namun, gejala tersebut tidak selalu spesifik sehingga memerlukan pemeriksaan medis lebih lanjut.

Diagnosis TB pada anak dilakukan melalui wawancara medis mengenai keluhan, riwayat kesehatan, serta riwayat kontak dengan penderita TB aktif. Dokter kemudian mengombinasikan hasil pemeriksaan fisik dengan pemeriksaan penunjang karena bakteri TB pada anak umumnya lebih sulit dideteksi.

Pemeriksaan penunjang dapat berupa foto toraks, tes tuberkulin atau Mantoux, pemeriksaan Tes Cepat Molekuler (TCM) berbasis nested real-time PCR, serta pemeriksaan Interferon Gamma Release Assay (IGRA). Hasil dari berbagai pemeriksaan tersebut menjadi dasar dokter dalam menegakkan diagnosis.

Penanganan TB pada anak terdiri atas terapi pengobatan dan terapi pencegahan. Pengobatan diberikan kepada anak yang telah terdiagnosis TB aktif menggunakan obat antituberkulosis (OAT), seperti isoniazid, rifampisin, pirazinamid, dan etambutol sesuai rekomendasi dokter.

Secara umum, pengobatan berlangsung selama enam bulan. Dua bulan pertama merupakan fase intensif dengan kombinasi beberapa jenis obat untuk menurunkan jumlah bakteri, kemudian dilanjutkan fase lanjutan selama sekitar empat bulan guna memastikan bakteri benar-benar hilang dan mencegah kekambuhan.

Selama menjalani terapi, anak perlu dipantau secara berkala untuk mengevaluasi perkembangan kondisi kesehatan sekaligus mengantisipasi kemungkinan efek samping obat. Kepatuhan mengonsumsi obat sesuai jadwal menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan pengobatan.

Meski demikian, tenaga kesehatan mengingatkan bahwa gejala TB pada anak sering menyerupai penyakit lain. Oleh karena itu, orang tua disarankan segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila mengalami batuk berkepanjangan, berat badan sulit naik, atau memiliki riwayat kontak dengan penderita TB aktif agar dapat dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....