Benarkah Mie Instan Bisa Menjadi Salah Satu Penyebab Fatty Liver
- 14 Agt 2026 14:53 WIB
- Manado
RRI.CO.ID,Manado -Mie instan menjadi salah satu makanan praktis yang populer di kalangan anak muda. Harganya terjangkau, mudah dibuat, dan tersedia hampir di mana saja. Namun, di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai fatty liver atau perlemakan hati, muncul pertanyaan: benarkah kebiasaan mengonsumsi mie instan dapat menyebabkan perlemakan hati pada anak muda?
Dari laman World Health Organization (WHO) Indonesia,melaporkan bahwa hampir satu dari lima remaja di Indonesia mengalami kelebihan berat badan. Kondisi ini menjadi perhatian karena kelebihan berat badan merupakan salah satu faktor yang berkaitan dengan berbagai gangguan metabolik.
Karena itu, kebiasaan makan sejak remaja dan usia dewasa muda penting diperhatikan. Sering mengonsumsi makanan ultra-proses, jarang makan sayur dan buah, terlalu banyak minuman manis, serta kurang bergerak dapat menjadi kombinasi yang kurang baik bagi kesehatan metabolik.
Tidak selalu berarti mie instan harus dihapus sepenuhnya dari menu. Yang lebih penting adalah frekuensi, porsi, dan keseluruhan pola makan. Untuk menjaga kesehatan hati, pola makan yang lebih banyak mengandung sayuran, buah, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, serta sumber protein yang lebih sehat dianjurkan.
Pedoman AASLD juga menekankan pembatasan makanan padat energi, lemak jenuh,karbohidrat olahan, dan makanan atau minuman tinggi fruktosa pada orang dengan MASLD. Aktivitas fisik secara rutin juga menjadi bagian penting dari penanganan kondisi tersebut.
Jika tetap ingin makan mie instan, menambahkan sayuran dan sumber protein seperti telur dapat membantu membuat makanan lebih seimbang. Namun, mie instan sebaiknya tidak menggantikan konsumsi makanan bergizi secara rutin.
Jadi, benarkah mie instan menyebabkan fatty liver?
Tidak tepat jika dikatakan bahwa mie instan secara langsung menyebabkan perlemakan hati. Namun, konsumsi mie instan yang terlalu sering, terutama jika menjadi bagian dari pola makan tinggi kalori, tinggi garam dan lemak,rendah serat,serta disertai kurang aktivitas fisik,dapat berkontribusi terhadap pola hidup yang meningkatkan risiko gangguan metabolik dan MASLD.
Dengan kata lain,yang perlu diwaspadai bukan hanya “seberapa sering makan mie instan”, tetapi juga bagaimana keseluruhan pola makan dan gaya hidup seseorang.
Bagi anak muda, menjaga berat badan tetap sehat,aktif bergerak,memperbanyak makanan bergizi,serta membatasi makanan ultra-proses merupakan langkah yang jauh lebih penting daripada sekadar menyalahkan satu jenis makanan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....