Orang Tua dan Anak di Era Konten, Ini Cara Bijak Hadapi Popularitas
- 08 Apr 2026 16:16 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Fenomena anak muda yang bercita-cita menjadi content creator kini semakin marak. Di balik peluang besar tersebut, muncul kekhawatiran orang tua terhadap dampak popularitas di usia dini. Menanggapi hal ini, Dr. Eng Elya Mufidah, dosen FTP Universitas Brawijaya dan anggota Komunitas ProWomen Malang, mengajak orang tua untuk lebih bijak dalam menyikapinya.
Menurut Elya, melarang anak secara langsung bukanlah solusi terbaik. Justru, orang tua perlu hadir dan mendampingi anak dalam proses berkarya di dunia digital.
“Lebih baik anak membuat konten di depan kita daripada diam-diam di belakang,” ujarnya, Selasa (8/4/2026)
Ia menekankan pentingnya menetapkan “pagar nilai” dalam pembuatan konten. Anak boleh berekspresi, namun tetap harus menjaga etika, tidak membuka aurat, tidak mengikuti tren negatif, serta menghindari konten yang merugikan orang lain.
“Fokusnya harus pada manfaat, bukan sekadar viral,” tambahnya.
Selain itu, keterlibatan orang tua juga menjadi faktor penting dalam membentuk karakter anak. Elya menyarankan agar orang tua sesekali muncul dalam konten anak sebagai bentuk pengawasan sekaligus kedekatan emosional. Dengan begitu, anak akan lebih sadar bahwa aktivitas digitalnya diperhatikan.
Dalam menghadapi komentar negatif dari netizen, Elya mengingatkan bahwa popularitas sejatinya adalah ujian. Ia menekankan pentingnya mengelola hati agar tidak terjebak dalam pujian maupun kritik.
“Allah ingin melihat, kita bangga karena dipuji manusia atau karena Allah. Ini urusan hati,” jelasnya.
Ia juga menyoroti fenomena candu popularitas, di mana seseorang cenderung mengulang konten yang viral demi mendapatkan perhatian yang sama. Menurutnya, kondisi ini dapat dihindari dengan terus meluruskan niat.
“Kita harus kembali bertanya, apa tujuan kita? Hanya ingin viral atau benar-benar ingin memberi manfaat?” katanya.
Elya menambahkan, kunci utama dalam menjalani popularitas adalah menjaga hubungan dengan Allah serta memulai setiap langkah dengan doa. Ia mengutip doa dari Abu Bakar Ash-Shiddiq agar seseorang dijadikan lebih baik dari apa yang dipersepsikan orang lain.
“Jangan sampai kita seperti lilin yang menerangi orang lain, tetapi habis oleh cahayanya sendiri. Jadilah seperti matahari yang memberi kehangatan tanpa kehilangan energi,” ungkapnya.
Melalui pendekatan yang tepat, Elya optimistis generasi muda dapat memanfaatkan media sosial sebagai sarana kebaikan. Ia pun mengajak orang tua dan anak untuk bersama-sama menjadikan popularitas sebagai jalan untuk memberi manfaat, bukan sekadar pencapaian semu.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....