Relevansi Panca Prana di Era Digital: Menata Energi di tengah Banjir Informasi
- 25 Feb 2026 23:35 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Di tengah derasnya arus informasi dan kehidupan yang tak pernah benar-benar “diam”, Program Mimbar Agama Hindu Pro 1 Radio Republik Indonesia (RRI) Malang menghadirkan refleksi yang menenangkan.
Prof. Dr. Eng. Ir. I Made Wartana, M.T. mengajak pendengar menengok kembali ajaran Panca Prana sebagai kunci menjaga keseimbangan diri di era digital. Ia menyoroti bahwa kelelahan yang banyak dialami masyarakat hari ini bukan semata karena pekerjaan fisik, melainkan akibat paparan informasi yang berlebihan dan pikiran terus bekerja tanpa jeda, sementara energi batin perlahan terkuras.
“Kita sering merasa lelah bukan karena bekerja berat, tetapi karena pikiran kita terus dibanjiri informasi. Kita lupa bernapas dengan sadar,” ungkapnya, Rabu, (25/2/ 2026).
Menurutnya, prāṇa yang tidak terkelola membuat seseorang mudah cemas dan kehilangan fokus.
Secara filosofis, prāṇa mengajarkan manusia untuk mensyukuri setiap tarikan napas sebagai anugerah kehidupan. Apāna mengajarkan pelepasan, bukan hanya secara fisik, tetapi juga mental yang melepaskan amarah, dendam, dan beban pikiran. Samāna mengajarkan keseimbangan dalam menerima dan mengolah pengalaman hidup. Udāna menuntun manusia menjaga ucapan agar selaras dengan pikiran dan tindakan. Vyāna melambangkan keterhubungan energi dalam tubuh sebagaimana manusia terhubung dengan masyarakat dan alam semesta.
Ia mengingatkan bahwa media sosial sering menjadi ruang udāna yang tidak terkendali.
“Kata-kata yang kita tulis adalah energi. Jika tidak disaring oleh pikiran yang jernih, ia bisa melukai orang lain,” tegasnya.
Prof. Made Wartana juga mengibaratkan tubuh seperti rumah yang dialiri listrik. Prāṇa adalah arus utama, apāna seperti sakelar pemutus, samāna sebagai penstabil tegangan, udāna sebagai perangkat yang memancarkan cahaya dan suara, serta vyāna sebagai jaringan kabel yang menyalurkan daya. “Kalau satu sistem terganggu, keseimbangan rumah itu pun terganggu,” katanya.
Melalui pemahaman ini, ia mengajak umat Hindu untuk lebih sadar mengelola energi diri agar tidak terkuras oleh hal-hal yang tidak memberi nilai spiritual.