Medan Sulit Angin Kencang, Tim Karhutla Gunung Buthak Andalkan Water Bombing
- 14 Sep 2026 15:35 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Pemadaman kebakaran hutan di Gunung Buthak dan Gunung Kawinajang, Jawa Timur, lebih mengandalkan operasi udara melalui water bombing. Medan yang sulit, angin kencang dan risiko keselamatan membuat operasi pemadaman dari darat dibatasi pada lokasi yang dinilai aman.
Satu helikopter dari Badan Penanggulanagn Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur telah dikerahkan untuk melakukan pemadaman udara sejak Senin (14/9) sekitar pukul 07.30 WIB.
“Hari ini sudah berlangsung water bombing sejak pukul 7.30-an tadi dan saat ini masih terus berlangsung,” kata Administratur KPH Perhutani Malang, Kelik Jatmiko dalam program Halo RRI, Senin (14/9/2026).
Hingga sekitar pukul 09.00 WIB, helikopter tersebut telah melakukan dua kali water bombing. Air untuk operasi pemadaman diambil dari sumber air di sekitar Kota Batu.
Kelik mengatakan, metode pemadaman udara menjadi langkah paling mendesak karena kondisi medan kebakaran tidak memungkinkan personel melakukan pemadaman secara manual secara luas.
“Sampai saat ini yang paling urgen atau mendesak adalah dengan water bombing. Upaya-upaya manual sangat berisiko tinggi sehingga kami batasi untuk operasi darat pada lokasi-lokasi yang aman dan memungkinkan,” ujarnya.
Salah satu kendala utama pemadaman dari udara adalah kondisi angin. Tiupan angin yang terlalu kencang dapat menghambat penerbangan sekaligus mengganggu efektivitas penjatuhan air ke titik api.
Sebelumnya, rencana water bombing tidak dapat dilakukan karena kondisi angin yang terlalu kencang. Namun pada Senin pagi, operasi udara dapat dilaksanakan karena kondisi memungkinkan.
“Kalau water bombing selama tiupan anginnya tidak terlalu kencang barangkali tidak menjadi kendala. Sumber air sampai saat ini mencukupi untuk menyuplai kebutuhan water bombing,” jelas Kelik.
Selain operasi udara, personel tetap dikerahkan untuk melakukan pemadaman dan pemantauan dari darat. Sekitar 15 personel terlibat dalam operasi darat, ditambah sekitar 45 personel dari Selorejo. Tim dari Pucung Kidul dan Pesanggrahan juga berada di lapangan untuk memonitor perkembangan api.
Namun, Kelik menegaskan keselamatan personel menjadi pertimbangan utama. Api dapat berubah arah mengikuti tiupan angin dan berpotensi mengepung tim yang berada di lokasi.
“Risiko tingginya, tim kebakaran bisa terjebak oleh api. Ini menyulitkan proses dan berisiko terhadap nyawa tim,” katanya.
Kebakaran di Gunung Buthak dan Kawinajang diperkirakan telah mencapai lebih dari 500 hektare. Saat ini api di Gunung Buthak bergerak ke arah Gunung Kawi atau Kraton, sedangkan api di kawasan Kawinajang mengarah ke wilayah perbatasan Kabupaten Blitar.
Hingga Senin, lokasi kebakaran masih jauh dari permukiman warga. Tim gabungan terus memantau pergerakan api sekaligus melakukan pemadaman berdasarkan kondisi lapangan.
Kelik mengajak masyarakat ikut membantu penanganan dengan mencegah munculnya sumber api baru di kawasan hutan.
“Kami mohon doa dan dukungan dari masyarakat semuanya. Doakan kami sehat selalu sehingga bisa melaksanakan tugas ini dengan baik dan api segera dipadamkan,” pintanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....