LSDP Malang Akan Terapkan Pirolisis, Teknologi Olah Plastik Jadi Bahan Bakar

  • 28 Agt 2026 21:15 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang – Program Local Service Delivery Project (LSDP) yang akan diterapkan di Kota Malang tidak hanya diarahkan untuk menambah kapasitas pengolahan sampah, tetapi juga mendorong pemanfaatan teknologi dan perubahan pola pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga.

Salah satu inovasi yang disiapkan adalah pengolahan sampah menjadi bahan bakar melalui teknologi pirolisis. Langkah tersebut dikembangkan karena pemanfaatan Refuse Derived Fuel (RDF) saat ini menghadapi keterbatasan pasar atau offtaker.

“Karena RDF itu offtaker-nya sekarang jumlahnya berkurang atau tidak seperti yang dulu lagi, maka ditambah satu tingkatan inovasi lagi menjadi model bio-renewable yang menghasilkan solar dan batu bara sintetis,” ujar Plh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang, Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang, dalam program Halo RRI, Jumat, 28 Agustus 2026.

Teknologi pirolisis akan difokuskan pada sampah plastik bernilai rendah yang sulit memiliki nilai ekonomi tinggi. Di antaranya kantong kresek, bungkus mi instan, bungkus kopi, hingga styrofoam.

Dari target 120 ton sampah per hari yang akan diolah melalui program tersebut, sekitar 10 persen direncanakan masuk dalam proses pirolisis. Hasil pengolahan tersebut ditargetkan berupa bahan bakar, sedangkan material lainnya diarahkan menjadi batu bara sintetis. Hal ini dapat mengurangi beban sampah di TPA SUpit Urang

Selain teknologi, DLH Kota Malang juga akan memperkuat pengelolaan sampah dari hulu. Saat ini terdapat lima TPS 3R, satu TPST, serta ratusan bank sampah yang beroperasi di Kota Malang.

Raymond mengatakan sekitar 290 ton sampah telah dikelola di tingkat hulu melalui pemilahan, penggunaan kembali, daur ulang, maupun pengolahan lainnya. Namun, pengelolaan dari sumbernya masih perlu diperkuat.

“Setelah kita mempersiapkan di hilirnya, maka nanti Pemerintah Kota Malang dalam hal ini Dinas Lingkungan Hidup akan menyampaikan ke masyarakat untuk melaksanakan pemilahan sampah mulai dari rumah tangga,” katanya.

Pola pengangkutan juga akan disesuaikan dengan karakteristik sampah. Sampah organik direncanakan diangkut setiap hari untuk mencegah pembusukan dan bau, sedangkan sampah anorganik dapat diangkut beberapa kali dalam sepekan.

DLH Kota Malang juga menyiapkan percontohan pengomposan di tingkat kelompok masyarakat atau RW. Sampah organik rumah tangga nantinya dapat diolah menggunakan komposter berukuran relatif kecil dan hasilnya dimanfaatkan kembali sebagai pupuk.

“Kita akan laksanakan percontohan di dalam kelompok RW, mungkin di Arjowinangun atau Asosiasi, kita akan berikan tempat untuk komposting. Jadi sampah-sampah organik itu tidak dibuang, tetapi dimasukkan dalam alat,” ujar Raymond.

Program tersebut diharapkan membuat pengelolaan sampah di Kota Malang tidak hanya bergantung pada fasilitas di hilir, tetapi dimulai dari pemilahan, pengurangan, dan pemanfaatan sampah sejak dari rumah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....