Kemerdekaan Digital Butuh Literasi dan Etika
- 21 Agt 2026 14:57 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang — Memperingati 81 tahun kemerdekaan Indonesia, makna perjuangan tidak lagi hanya berkaitan dengan mempertahankan wilayah dan kedaulatan secara fisik. Di tengah perkembangan teknologi, generasi muda menghadapi medan perjuangan baru di ruang digital.
Ketua GP Ansor Kabupaten Malang, M. Fathurrozi, S.E, M.M, menilai kemerdekaan di era digital harus dimaknai sebagai kemampuan masyarakat untuk menggunakan teknologi secara bijak, tanpa kehilangan persatuan dan etika.
Menurutnya, perkembangan teknologi telah membuat masyarakat semakin mudah terhubung. Informasi dapat berpindah dalam hitungan detik, sementara komunikasi dapat dilakukan dengan siapa pun tanpa terbatas jarak. Namun, kondisi tersebut tidak selalu membuat hubungan sosial semakin dekat.
“Semakin terhubung secara teknologi, tetapi belum tentu semakin terhubung secara sosial,” ujarnya saat dikonfirmasi RRI pada Kamis (20/8/2026).
Fathurrozi menyebut literasi digital menjadi salah satu kunci menghadapi kondisi tersebut. Masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk menyaring informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya.
Ia menilai persoalan di ruang digital bukan semata-mata terletak pada teknologinya, melainkan pada bagaimana teknologi tersebut digunakan. Kebebasan menyampaikan pendapat, misalnya, tetap harus dibarengi dengan etika dan tanggung jawab.
Menurutnya, kritik dan ujaran kebencian harus dapat dibedakan. Kritik seharusnya disampaikan dengan bahasa yang membangun serta tidak merendahkan atau melanggar hak orang lain.
Fathurrozi juga mengingatkan pentingnya melakukan tabayun atau klarifikasi sebelum menyebarkan informasi. Hal tersebut semakin penting karena informasi di media sosial kerap hadir dalam bentuk potongan video maupun pernyataan yang kehilangan konteks.
“Kadang satu konten memang benar, tetapi konteksnya tidak benar,” katanya.
Kondisi tersebut, lanjutnya, dapat memunculkan tafsir berbeda dan berujung pada polarisasi di masyarakat. Karena itu, masyarakat perlu membiasakan diri memeriksa informasi secara utuh sebelum mengambil kesimpulan.
Dalam konteks kepemudaan, Fathurrozi mendorong generasi muda untuk mengambil peran sebagai agen moderasi, agen literasi digital, sekaligus menjadi jembatan ketika terjadi perbedaan pandangan di media sosial.
Pemuda juga diharapkan aktif membangun narasi positif. Menurutnya, ruang digital tidak boleh dibiarkan hanya dipenuhi narasi negatif, provokasi, dan kebencian.
Ia menegaskan, kemerdekaan digital bukan berarti bebas melakukan apa saja, melainkan kemampuan mengendalikan teknologi agar tidak justru dikendalikan oleh teknologi dan algoritma.
“Boleh berbeda pandangan, tetapi jangan sampai kehilangan persaudaraan. Indonesia adalah rumah besar kita bersama,” tegasnya.
Fathurrozi berharap peringatan kemerdekaan ke-81 tidak hanya diwujudkan melalui seremoni, tetapi juga melalui upaya menjaga persatuan, termasuk di ruang digital.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....