Pemuda Diminta Merdeka dari Provokasi di Ruang Digital

  • 21 Agt 2026 14:31 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang — Generasi muda dinilai memiliki tantangan perjuangan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Jika perjuangan generasi terdahulu identik dengan mempertahankan kemerdekaan secara fisik, generasi saat ini menghadapi tantangan berupa derasnya arus informasi dan pengaruh media sosial.

"Generasi muda perlu memiliki kemampuan berpikir kritis dan pengendalian diri agar tidak mudah terpengaruh informasi yang beredar di ruang digital," kata Tokoh Pemuda Kabupaten Malang, M. Hasan Rois, S.E., saat dikonfirmasi RRI pada Kamis (20/8/2026).

Hasan menyoroti kebiasaan sebagian generasi muda yang merasa telah memahami banyak hal hanya karena mendapatkan informasi dari media sosial. Padahal, informasi yang diterima belum tentu lengkap maupun benar.

"Kondisi tersebut dapat memengaruhi cara berpikir sekaligus menimbulkan persoalan sosial ketika informasi langsung dipercaya dan disebarkan tanpa verifikasi," tuturnya.

Ia juga mengingatkan bahwa kemerdekaan tidak dapat dimaknai sebagai kebebasan tanpa batas. Kebebasan berekspresi tetap membutuhkan moral, etika, serta tanggung jawab.

Hasan menilai tantangan tersebut semakin terlihat ketika masyarakat menggunakan media sosial untuk menyampaikan komentar kasar, menghina fisik, menyerang keluarga, hingga merendahkan orang lain. Menurutnya, perilaku tersebut menunjukkan bahwa batas-batas adab yang selama ini menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat mulai hilang ketika seseorang berada di balik layar.

“Kalau tidak mau disakiti, jangan menyakiti,” ujarnya.

Karena itu, ia mengajak generasi muda membangun kebiasaan menahan diri sebelum mengunggah maupun membagikan sesuatu. Jika dahulu masyarakat dituntut menjaga ucapan, kini masyarakat juga harus mampu menjaga apa yang ditulis dan disebarkan melalui jari.

Hasan menekankan pentingnya pendidikan adab sebagai dasar sebelum seseorang menguasai ilmu maupun teknologi. Menurutnya, ilmu bersifat netral dan dampaknya sangat bergantung pada siapa yang menggunakannya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak menjadi konsumen pasif konten negatif. Konten yang mempermalukan seseorang, membuka aib, atau memancing kemarahan sering kali mendapatkan perhatian besar karena terus ditonton dan dibagikan.

Padahal, kebiasaan tersebut dapat membuat pengguna semakin terbiasa dengan narasi negatif. Karena itu, masyarakat perlu memiliki “pagar” dalam menentukan informasi maupun konten yang layak dikonsumsi dan diteruskan.

Hasan menilai orang yang benar-benar merdeka di era digital justru bukan orang yang paling bebas berbicara, tetapi mereka yang mampu mengendalikan dirinya sendiri dan mengetahui kapan harus berbicara maupun menahan diri.

"Saya kutip prinsip yang dikenal dalam pendidikan pesantren, bahwa ketika seseorang tidak mampu berbicara dengan baik, lebih baik memilih diam," katanya.

Dalam momentum 81 tahun kemerdekaan Indonesia, Hasan berharap generasi muda mampu mengisi kemerdekaan dengan membangun karakter, menjaga moral, serta menggunakan teknologi untuk hal-hal yang memberikan manfaat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....