Karhutla Bromo Capai 889 Hektare, BNPB Berpacu Padamkan Api sebelum 14 Agustus

  • 11 Agt 2026 15:40 WIB
  •  Malang

RRI. CO. ID, Probolinggo - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) hingga Selasa (11/8/2026) telah mencapai 889 hektare. Kebakaran tersebut meluas di empat wilayah, yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang.

Luasnya area yang terbakar menjadi tantangan tersendiri bagi petugas gabungan. Terlebih, sejumlah titik api berada di kawasan dengan medan ekstrem, termasuk lereng dengan kemiringan mencapai 80 derajat.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto mengatakan, kondisi medan membuat pasukan darat kesulitan menjangkau sejumlah titik api.

“Apinya ada di ketinggian, sudut kemiringannya mencapai 80 derajat. Jadi pasukan darat tidak bisa menjangkau sampai ke atas karena juga menyangkut keselamatan,” ujar Suharyanto, Selasa (11/8/2026).

Kondisi tersebut membuat operasi pemadaman melalui udara menjadi salah satu tumpuan untuk menjangkau titik api yang sulit diakses dari darat. Namun, dukungan armada udara saat ini juga terbatas.

Suharyanto menjelaskan, dari tiga helikopter water bombing yang sebelumnya dikerahkan untuk membantu pemadaman karhutla Bromo, dua di antaranya telah dialihkan ke wilayah lain yang juga membutuhkan penanganan kebakaran.

“Bombing itu kan ada tiga. Saat ini dua bombing sudah geser ke tempat lain, karena tempat lain juga membutuhkan pemadaman, kebakaran juga,” jelasnya.

Dengan berkurangnya armada udara, operasi pemadaman di Bromo harus dilakukan dengan sumber daya yang lebih terbatas. Padahal, luas lahan yang terbakar telah mendekati 900 hektare.

Selain medan dan keterbatasan helikopter, ketersediaan sumber air juga menjadi kendala. BNPB menyebut hanya kawasan Ranupane yang saat ini dapat dimanfaatkan sebagai lokasi pengisian air untuk mendukung operasi water bombing.

“Sumber airnya tidak banyak, yang bisa diambil hanya di Ranupane saja,” kata Suharyanto.

Faktor cuaca turut memengaruhi efektivitas penanganan karhutla. Pemerintah belum dapat melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) karena potensi awan yang dapat direkayasa belum mencukupi.

Berdasarkan informasi BMKG, terdapat potensi pertumbuhan awan hujan pada 14 hingga 18 Agustus 2026. Kondisi tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan untuk pelaksanaan OMC guna membantu proses pemadaman.

“Penjelasan dari BMKG ada potensi awan hujan nanti tanggal 14 sampai 18 Agustus. Saat itulah kami lakukan modifikasi cuaca agar pemadaman bisa lebih efektif,” ungkap Suharyanto.

BNPB bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, BPBD, Balai Besar TNBTS, serta unsur terkait lainnya terus memperkuat operasi pemadaman. Pemerintah menargetkan karhutla di kawasan Bromo dapat ditangani sebelum Jumat 14 Agustus 2026.

Target tersebut menjadi penting mengingat kebakaran telah meluas ke empat wilayah dengan kondisi medan yang sulit, sumber air terbatas, serta dukungan armada udara yang juga harus dibagi untuk menangani kebakaran di daerah lain.

BNPB kini berpacu dengan waktu untuk memadamkan titik-titik api sekaligus mencegah munculnya titik api baru di kawasan konservasi TNBTS.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....