Karhutla Bromo Capai 742 Hektare, Water Bombing Terkendala Kabut dan Asap

  • 11 Agt 2026 12:58 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) terus bertambah. Hingga Senin (10/8/2026), area terdampak diperkirakan mencapai 742,70 hektare, atau bertambah lebih dari 200 hektare dibandingkan sehari sebelumnya.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang, Sadono Irawan, mengatakan kebakaran yang pertama kali terdeteksi di Bukit Jantur atau Bantengan, wilayah Kabupaten Probolinggo, pada 3 Agustus 2026 itu kini meluas ke sejumlah kawasan di Probolinggo dan Penanjakan, Kabupaten Pasuruan.

“Prakiraan luas lahan yang terbakar saat ini total sekitar 742,70 hektare. Data tersebut masih berkembang karena proses pendataan ulang masih berlangsung,” kata Sadono, Selasa (11/8/2026).

Menurut dia, vegetasi yang terbakar meliputi cemara gunung, mentigen, akasia, dan semak belukar. Luas area yang terdampak meningkat seiring kondisi cuaca dan angin yang mendukung pergerakan api.

Untuk mengendalikan kebakaran, tim gabungan mengerahkan operasi pemadaman darat dan udara. Pada Senin, tiga helikopter BNPB diterjunkan untuk melakukan water bombing di wilayah Probolinggo dan Penanjakan Pasuruan.

Operasi udara tersebut menghasilkan sembilan rit dalam dua sortie dengan total 24.000 liter air yang dijatuhkan ke titik-titik kebakaran. Dengan tambahan tersebut, akumulasi volume air yang telah digunakan untuk operasi water bombing mencapai 168.800 liter.

Selain water bombing, BPBD Jawa Timur juga mengoperasikan Drone Water Spray untuk membantu pemantauan dan pembasahan area yang masih berpotensi memunculkan bara api.

Di darat, tim gabungan melakukan pembuatan sekat bakar, pembasahan lahan terdampak, patroli kawasan, serta pengamanan titik pengambilan air bagi helikopter di kawasan Ranu Pane dan Ranu Regulo.

Sadono menjelaskan, wilayah Kabupaten Malang saat ini relatif aman dari titik api aktif. Namun, upaya pemadaman masih difokuskan pada sejumlah area di luar wilayah Kabupaten Malang yang terdampak kebakaran.

“Area batas wilayah Kabupaten Malang aman dan sudah tidak ada bara api. Penanganan saat ini dilanjutkan di sejumlah titik yang masih memerlukan pemantauan,” ujarnya.

BPBD juga melaporkan kondisi terkini di kawasan P30 dan Dingklik, Penanjakan Pasuruan, tidak lagi menunjukkan titik api yang terpantau. Meski demikian, petugas tetap melakukan pemantauan karena potensi kemunculan bara api masih ada.

Proses pemadaman masih menghadapi sejumlah kendala. Kabut tebal dan kepulan asap menyebabkan jarak pandang terbatas sehingga operasi water bombing belum dapat dilakukan secara maksimal.

Selain itu, angin yang cukup kencang mempercepat perambatan api, sementara medan terjal menyulitkan petugas darat menjangkau lokasi kebakaran.

“Visibilitas yang rendah akibat kabut dan asap menjadi kendala utama operasi udara. Di sisi lain, kondisi medan yang curam juga membatasi mobilitas tim pemadam di lapangan,” kata Sadono.

Hingga Senin malam, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Sementara itu, seluruh akses wisata menuju kawasan Bromo masih ditutup untuk kunjungan wisatawan.

Penutupan berlaku di pintu masuk Cemorolawang (Probolinggo), Wonokitri (Pasuruan), Jemplang dan Coban Trisula (Malang), serta Senduro (Lumajang) sejak Sabtu (8/8/2026) pukul 22.00 WIB hingga batas waktu yang akan diumumkan kemudian.

Pada Selasa 11 Agustus 2026, tim gabungan dijadwalkan melanjutkan pemantauan dan pemetaan titik api untuk menentukan langkah penanganan berikutnya di kawasan terdampak karhutla Bromo.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....