Dari Hobi Jadi Rezeki, Warga Blitar Tekuni Bisnis Restorasi Helm Jadul

  • 29 Jul 2026 11:27 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Blitar - Siapa sangka hobi mengoleksi helm lawas bisa menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan. Itulah yang dialami Arik Agung Prasetyo Budi (35), warga Desa Kalipucung, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar.

Berbekal kecintaan pada helm klasik, ia berhasil membangun usaha restorasi helm jadul yang kini melayani pembeli dari berbagai daerah di Indonesia.

Di rumah orang tuanya yang juga dijadikan showroom, ratusan helm lawas tertata rapi di rak-rak pajangan. Sebagian merupakan koleksi pribadi, sementara lainnya telah melalui proses restorasi dan siap dipasarkan kepada para pecinta motor klasik maupun kolektor.

Arik menceritakan, usaha tersebut berawal pada 2016 saat ia mencoba menjual beberapa helm koleksi pribadinya melalui media sosial. Respons yang diterima di luar dugaan. Helm yang dipasarkan langsung diminati hingga akhirnya membuatnya melihat peluang bisnis di balik hobi tersebut.

"Awalnya saya hanya jual koleksi pribadi. Setelah diposting di media sosial ternyata langsung laku. Dari situ saya mulai yakin kalau helm jadul punya pasar," ujar Arik saat ditemui di kediamannya, Rabu (29/7/2026).

Melihat permintaan yang terus meningkat, Arik mulai serius menekuni usaha restorasi helm. Keputusan besar pun diambil pada 2018 dengan meninggalkan pekerjaan lamanya sebagai tukang bangunan dan fotografer acara pernikahan untuk fokus mengembangkan bisnis tersebut.

"Setelah pelanggan semakin banyak, saya memutuskan fokus di usaha restorasi helm jadul," katanya.

Dalam menjalankan usahanya, Arik berburu helm bekas dari komunitas pecinta barang lawas maupun para pengepul barang rongsokan. Helm yang diperoleh dengan harga sekitar Rp75 ribu per unit kemudian diperbaiki melalui proses pengecatan, perbaikan bagian yang rusak, hingga pemasangan aksesori agar tampil lebih menarik.

Menurutnya, nilai jual helm akan semakin tinggi apabila masih memiliki cat dan stiker orisinal. Bahkan untuk jenis helm chips yang kondisinya masih bagus, harganya bisa jauh lebih tinggi dibanding helm biasa.

"Saya beli bahan sekitar Rp75 ribu. Setelah direstorasi, harganya bisa dijual mulai Rp150 ribu sampai Rp300 ribu. Kalau helm chips yang kondisinya bagus bisa sampai Rp350 ribu," jelasnya.

Pemasaran dilakukan secara daring melalui berbagai grup media sosial komunitas pecinta motor klasik dan barang antik. Cara tersebut terbukti efektif menjangkau pasar yang lebih luas. Sebagian besar pembelinya justru berasal dari luar Jawa Timur.

"Dalam satu bulan rata-rata bisa terjual sekitar 30 helm. Kebanyakan pembeli berasal dari luar daerah karena komunitas motor klasik di sana cukup besar," ungkapnya.

Kini Arik mengaku tidak lagi kesulitan memperoleh bahan baku. Selain memiliki jaringan pengepul yang rutin memasok helm lawas, ia juga aktif bergabung dalam komunitas pecinta barang jadul sehingga lebih mudah menemukan helm-helm langka yang memiliki nilai koleksi.

Bagi Arik, restorasi helm bukan sekadar memperbaiki barang bekas. Menurutnya, setiap helm memiliki karakter dan cerita yang perlu dipertahankan. Melalui sentuhan kreativitas, helm yang semula dianggap usang kembali memiliki nilai estetika sekaligus nilai ekonomi yang tinggi.

"Dari hobi akhirnya bisa menjadi pekerjaan utama. Yang terpenting terus belajar dan menjaga kualitas hasil restorasi agar pelanggan tetap percaya," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....