Jangan Nilai Pesantren Hanya dari Kasus Kekerasan, Perannya Tak Tergantikan

  • 21 Jul 2026 15:58 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang – Masyarakat harus melihat pesantren secara objektif dan tidak memberikan penilaian hanya berdasarkan sejumlah kasus kekerasan yang mencuat ke publik. Kasus kekerasan tetap harus menjadi perhatian serius dan pelaku wajib mendapatkan hukuman. Namun, hal tersebut tidak boleh menghapus kontribusi besar pesantren dalam pendidikan dan pembentukan karakter generasi muda.

“Melihat pesantren hari ini tidak adil rasanya ketika hanya dinilai dari satu dua kasus. Itu tentu tidak bagus dan harus ditangani dengan menegakkan keadilan bagi korban dan keluarganya,” ujar Wakil Ketua Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur Hikmah Bafaqih.

Ia menjelaskan, pesantren memiliki fungsi pengasuhan yang tidak mudah digantikan oleh lembaga pendidikan lain. Sistem kehidupan bersama selama 24 jam membuat santri mendapatkan pembelajaran karakter secara langsung.

“Fungsi pesantren dalam pengasuhan anak, pendidikan anak, dan pembangunan karakter dalam kacamata saya sebagai pemerhati anak dan perempuan itu tidak tergantikan,” kata Hikmah, Senin, 20 Juli 2026.

Menurutnya, pesantren memberikan banyak pembelajaran yang saat ini menjadi kebutuhan generasi muda, seperti kemandirian, empati, kerja sama, dan kemampuan mengelola diri.

Ia mencontohkan bagaimana pesantren mampu membantu orang tua dalam membatasi penggunaan gawai dan membangun kedisiplinan anak.

“Kita sebagai orang tua belum tentu bisa mengatur anak terkait gadget, tetapi pesantren bisa menjeda anak dari gadget dalam waktu tertentu. Ini luar biasa,” tuturnya.

Hikmah juga menyoroti kontribusi pesantren yang selama ini memberikan akses pendidikan dengan biaya terjangkau bagi masyarakat.

Ia membandingkan sistem pendidikan berasrama yang dikelola negara dengan pesantren yang mampu menyediakan pendidikan, pengasuhan, makan, hingga layanan keseharian santri.

“Pesantren itu membangun ekosistem 24 jam. Anak-anak mendapatkan pendidikan, pengasuhan, kasih sayang, kemandirian, empati, dan kolaborasi dengan biaya yang sangat terjangkau,” ungkapnya.

Meski demikian, ia menegaskan evaluasi dan pembenahan tetap harus dilakukan agar pesantren semakin aman dan dipercaya masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....