Bullying di Medsos Mengkhawatirkan, Literasi Digital Dinilai Jadi Benteng Utama

  • 05 Jul 2026 09:38 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang : Perundungan kini tidak lagi terbatas terjadi di lingkungan sekolah maupun pergaulan sehari-hari. Perkembangan media sosial membuat praktik bullying berpindah ke ruang digital dengan dampak psikologis yang jauh lebih luas.

Praktisi komunikasi sekaligus akademisi Zenita Kurnia Putri menilai masyarakat masih menganggap media sosial sebagai ruang bebas tanpa aturan sehingga banyak pengguna merasa dapat berkata apa saja tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat kasus kekerasan verbal, pelecehan, hingga penghinaan secara digital terus meningkat.

"Kita tidak bisa mengontrol siapa saja yang ada di dunia maya. Tetapi kita bisa mengontrol diri sendiri dengan memfilter apa yang kita lihat, apa yang kita tulis, dan bagaimana kita berinteraksi," ujarnya dalam dialog di Pro 1 RRI Malang, Jumat (3/7/2026).

Zenita mengatakan, media sosial seharusnya dimanfaatkan untuk menyebarkan hal-hal positif, bukan menjadi tempat melampiaskan emosi maupun kebencian. Ia juga mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati dalam membangun relasi melalui dunia maya.

Founder Gedong Ijen Education Creative Center Dewi Utari menambahkan, banyak kasus kekerasan maupun penipuan berawal dari perkenalan melalui media sosial. Karena itu generasi muda diminta tidak mudah percaya terhadap citra seseorang yang hanya dibangun melalui unggahan digital.

"Jangan mudah terpengaruh dengan pencitraan di media sosial. Kita harus mengenali seseorang lebih jauh sebelum memberikan kepercayaan," katanya.

Ia menyarankan masyarakat memanfaatkan berbagai fitur digital yang tersedia untuk mengenali identitas seseorang, termasuk mengecek jejak digital maupun lingkaran pertemanannya. Menurut Dewi, budaya Indonesia yang menjunjung norma dan etika juga tetap harus diterapkan dalam kehidupan digital.

"Media sosial bukan ruang tanpa aturan. Norma dan budaya tetap harus dibawa ke sana," ujarnya.

Selain itu, Dewi menyoroti kebiasaan generasi muda yang menghabiskan waktu sangat lama bersama gawai. Ia menilai kondisi tersebut membuat sebagian anak semakin tertutup dan lebih nyaman berinteraksi di dunia maya dibandingkan lingkungan sosial secara langsung.

Karena itu, kampanye literasi digital menurutnya perlu dilakukan secara masif melalui sekolah, komunitas, maupun keluarga agar anak-anak mampu mengenali risiko kekerasan digital sejak dini.

Zenita menambahkan, masyarakat juga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai bentuk kejahatan digital yang kini semakin beragam, mulai dari cyberbullying hingga penipuan daring.

"Media sosial harus menjadi ruang yang sehat, aman, dan saling menghargai. Itu dimulai dari diri kita sendiri," tegasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....