Musim Kemarau Picu Ancaman Karhutla & Kebakaran Kota, Warga Diminta Lebih Waspada

  • 05 Jun 2026 11:19 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Musim kemarau panjang yang diperkirakan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan tidak hanya berpotensi menyebabkan kekeringan, tetapi juga meningkatkan risiko kebakaran hutan, lahan, hingga kebakaran di kawasan perkotaan.

Kepala Pusat Lingkungan Mitigasi dan Kebencanaan Universitas Negeri Malang, Dr. Heni Masruroh, mengingatkan bahwa sebagian besar kebakaran saat musim kemarau dipicu oleh aktivitas manusia yang kurang hati-hati.

Menurutnya, kondisi lahan yang kering membuat api sangat mudah menyebar dan sulit dikendalikan. Karena itu, langkah pencegahan harus dilakukan jauh sebelum kejadian terjadi.

"Kebakaran hutan dan lahan tidak bisa dimitigasi secara instan. Yang harus dilakukan adalah menjaga ekosistem hutan agar tetap mampu menyimpan cadangan air dan menjaga kelembapan tanah," ujarnya, Jumat (5/6/2026).

Heni menjelaskan bahwa hutan yang sehat memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan air lebih baik melalui sistem perakaran vegetasi. Cadangan air tersebut membantu menjaga kelembapan tanah saat musim kemarau sehingga risiko kebakaran dapat ditekan.

Selain ancaman karhutla, masyarakat perkotaan juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran permukiman. Kepadatan penduduk yang tinggi dan cuaca panas menjadi kombinasi yang dapat memperbesar risiko kebakaran.

Ia mencontohkan kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan yang masih menyisakan bara api. Dalam kondisi cuaca kering dan berangin, bara kecil dapat menjadi pemicu kebakaran yang lebih besar.

"Kita harus memastikan sumber api benar-benar padam sebelum dibuang. Hal-hal kecil seperti itu sering kali menjadi penyebab kebakaran saat musim kemarau," katanya.

Selain puntung rokok, masyarakat juga diminta lebih berhati-hati saat menggunakan kompor, peralatan listrik, maupun instalasi listrik rumah tangga yang tidak sesuai standar.

Dalam kesempatan tersebut, Heni juga mengingatkan pentingnya menjaga lingkungan sebagai bagian dari mitigasi bencana jangka panjang. Menurutnya, kerusakan lingkungan dapat memicu berbagai masalah lain, mulai dari peningkatan suhu udara hingga berkurangnya kemampuan alam menyimpan air.

Ia menilai kesadaran masyarakat menjadi faktor penting dalam menghadapi ancaman kemarau. Ancaman tersebut memang tidak bisa dicegah, namun dampaknya dapat diminimalkan melalui perubahan perilaku sehari-hari.

"Kalau kita sadar bahwa kemarau adalah ancaman yang pasti datang setiap tahun, maka kita juga harus mulai mengubah perilaku. Menghemat air, menjaga lingkungan, dan mencegah munculnya sumber api menjadi langkah sederhana yang sangat penting," tegasnya.

BMKG sebelumnya menyatakan sejumlah wilayah di Jawa Timur telah memasuki musim kemarau sejak Mei 2026. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus dengan karakteristik lebih panjang dan relatif kering, sehingga masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko kekeringan maupun kebakaran.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....