BMKG Prediksi Puncak Hujan Masih Berlanjut
- 05 Mar 2026 09:29 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Juanda memprediksi potensi hujan lebat disertai angin kencang di Jawa Timur masih berlanjut dalam tiga hingga lima hari ke depan seiring masih aktifnya dinamika atmosfer skala regional dan global. Prakirawan BMKG Juanda, Andrie Wijaya, S.Tr.Met dalam Dialog Malang Menyapa menjelaskan bahwa saat ini Madden Julian Oscillation (MJO) berada pada fase lima dengan amplitudo kuat di wilayah maritim kontinen, kondisi yang secara ilmiah identik dengan peningkatan pembentukan awan hujan dalam skala luas di Indonesia.
“Selama fase ini aktif dan amplitudonya kuat, suplai uap air meningkat dan peluang hujan sedang hingga lebat menjadi lebih tinggi,” ujarnya, Kamis (5/3/2026)
Selain MJO, gelombang ekuatorial Rossby turut memperkuat distribusi uap air ke wilayah Jawa Timur, sementara keberadaan pusat tekanan rendah dan Bibit Siklon Tropis 90S di selatan Indonesia memicu konvergensi angin yang mendukung pertumbuhan awan konvektif. BMKG mencatat intensitas hujan di Malang Raya dalam beberapa hari terakhir berkisar 18 hingga 30 milimeter per jam, sedangkan kecepatan angin mencapai 22–30 knot dan di Surabaya sempat melebihi 45 knot yang sudah masuk kategori angin kencang berbahaya.
Secara teknis, cuaca ekstrem ditetapkan berdasarkan parameter curah hujan tinggi dalam durasi singkat, kecepatan angin signifikan, serta adanya sistem atmosfer aktif yang terdeteksi melalui radar, satelit, dan model numerik cuaca. BMKG menegaskan bahwa pola saat ini bukan anomali di luar prediksi musim, melainkan bagian dari dinamika puncak musim hujan yang memang diperkirakan terjadi pada awal tahun, namun dengan intensitas yang dapat meningkat akibat pengaruh sistem global.
Untuk meningkatkan akurasi informasi, BMKG memperbarui peringatan dini setiap dua jam dan mendistribusikannya secara real-time melalui kanal digital, website resmi, media sosial, serta grup koordinasi dengan pemerintah daerah.
“Masyarakat sebaiknya menjadikan informasi resmi BMKG sebagai rujukan utama dan menghindari spekulasi yang tidak terverifikasi, karena dinamika atmosfer dapat berubah cepat,” tegas Andrie.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....