BMKG: Bediding Dipengaruhi Angin Dingin Australia dan Langit Cerah saat Kemarau
- 17 Jun 2026 12:31 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang – Fenomena bediding kembali dirasakan masyarakat Malang Raya sejak akhir Mei 2026. Suhu udara yang terasa lebih dingin pada malam hingga pagi hari merupakan fenomena yang lazim terjadi saat musim kemarau.
Ketua Tim Kerja Meteorologi (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) BMKG Juanda, Andrie Wijaya, menjelaskan bediding dipicu oleh beberapa faktor meteorologis, terutama pengaruh angin monsun timuran yang berasal dari Australia.
Andrie mengatakan fenomena tersebut terjadi hampir setiap tahun meskipun waktu kemunculannya dapat berbeda.
"Bediding itu sebenarnya fenomena normal yang mungkin tiap tahun ada, cuma waktunya berbeda-beda. Ada yang mulai Mei, ada yang Juni, tergantung kondisi wilayah dan topografinya," ujarnya, Rabu 17 Juni 2026.
Menurutnya, saat ini Australia sedang mengalami musim dingin. Angin monsun timuran yang bergerak menuju Indonesia membawa massa udara dingin dan kering hingga dirasakan masyarakat di wilayah selatan Indonesia, termasuk Jawa Timur.
"Di musim kemarau, monsun kita berasal dari Australia. Jadi kita terkena hawa dingin dari Australia yang bersifat kering," katanya.
Selain itu, minimnya tutupan awan saat musim kemarau membuat panas yang diterima bumi pada siang hari lebih cepat terlepas ke atmosfer saat malam hari.
"Kalau tidak ada awan, radiasi panas yang naik tidak tertahan. Akibatnya suhu udara cepat turun dan masyarakat langsung merasakan udara dingin," jelas Andrie.
Ia menambahkan wilayah pegunungan dan dataran tinggi akan merasakan suhu yang lebih rendah dibanding daerah perkotaan karena pengaruh topografi.
"Daerah pegunungan dan perbukitan memang lebih dingin karena sangat dipengaruhi kondisi topografi setempat," tuturnya.
BMKG memperkirakan fenomena bediding masih akan berlangsung hingga puncak musim kemarau pada Agustus mendatang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....