Dispangtan Kota Malang Intensifkan Gerakan Pangan Murah
- 04 Feb 2026 12:35 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang mengintensifkan pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) menjelang bulan suci Ramadan. Program ini merupakan bagian dari kebijakan nasional Badan Pangan Nasional untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap pangan berkualitas dengan harga terjangkau sekaligus menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan.
Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dispangtan Kota Malang, Elfiatur Roikhah menjelaskan, GPM dilaksanakan secara mobile dan bergilir di lima kecamatan. Sepanjang tahun 2025, kegiatan ini telah digelar sebanyak 100 kali, sementara pada 2026 pelaksanaannya sudah dimulai sejak beberapa minggu terakhir dan rutin digelar setiap hari Jumat.
“Pelaksanaan GPM biasanya kami lakukan setiap hari Jum'at di halaman kantor Dispangtan dan bergilir di lima kecamatan. Namun pada 13 Februari mendatang, karena GPM dilaksanakan serentak secara nasional, kegiatan akan dipusatkan di Balai Kelurahan Arjosari mulai pukul 08.00 hingga 12.00 WIB,” ujar Elfiatur dalam Dialog Malang Menyapa, Rabu (4/2/2026).
Dalam setiap pelaksanaan GPM, Dispangtan menggandeng sejumlah mitra seperti Perumda Tunas, ID Food, Bulog, Gapoktan, dan Tim Sarana Pangan. Pemerintah memberikan subsidi transportasi agar harga di tingkat produsen maupun distributor dapat diterapkan hingga ke konsumen. Meski tidak diperbolehkan melakukan subsidi harga, komoditas GPM dijual lebih murah dibanding harga pasar, dengan selisih sekitar 1 hingga 5 ribu rupiah atau 15 sampai 20 persen.
Komoditas yang disediakan meliputi beras, minyak goreng, telur, tepung, cabai, dan bawang merah. Beras menjadi komoditas paling diminati masyarakat, dengan stok mencapai 4 hingga 8 ton setiap pelaksanaan dan selalu habis terjual. Tidak ada pembatasan pembelian, kecuali apabila stok menipis sementara waktu pelaksanaan masih berlangsung.
Elfiatur memastikan ketersediaan pangan di Kota Malang selama Ramadhan dalam kondisi aman. Saat ini, stok pangan strategis tercatat mencapai lebih dari 150 persen dari kebutuhan, termasuk cadangan beras sebanyak 53 ribu ton dan minyak goreng 109 ton.
“Yang perlu diantisipasi adalah daging ayam, karena menjelang Idul Fitri biasanya terjadi peningkatan permintaan,” katanya.
Elfiatur menambahkan, upaya stabilisasi harga pangan juga dilakukan melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang digagas Badan Pangan Nasional. Salah satu instrumennya adalah Cadangan Pangan Pemerintah dan Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPP/CPPD) yang berfungsi menyimpan komoditas saat panen raya untuk kemudian dikeluarkan ketika terjadi peningkatan kebutuhan atau kelangkaan.
“Untuk pangan nasional seperti beras, jagung, dan kedelai sudah diatur sebagai komoditas wajib dalam cadangan pangan. Sementara komoditas lain seperti daging ayam, bawang merah, dan cabai masih dalam tahap penyusunan regulasi,” jelasnya.
Di tingkat daerah, Pemerintah Kota Malang saat ini tengah mengajukan rancangan peraturan daerah terkait CPPD untuk dibahas bersama DPRD. Meski demikian, Dispangtan Kota Malang telah lebih dulu melaksanakan penguatan cadangan pangan, khususnya beras, dengan meningkatkan penyimpanan stok pada saat panen raya untuk kemudian dikeluarkan pada momen tertentu.
Saat ini, cadangan pangan pemerintah daerah masih tersimpan di Bulog. Ke depan, pada tahun 2026 Dispangtan menargetkan perluasan cadangan pangan daerah tidak hanya pada beras, tetapi juga mencakup komoditas lain seperti daging ayam, cabai, dan bawang merah, seiring kesiapan sarana pendukung yang tersedia.
Melalui penguatan Gerakan Pangan Murah yang didukung cadangan pangan pemerintah daerah, Dispangtan Kota Malang berharap stabilitas pasokan dan harga pangan menjelang Ramadan hingga Idul Fitri dapat tetap terjaga, sekaligus membantu masyarakat memperoleh bahan pangan pokok dengan harga terjangkau. (Annisa)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....