Diabetes Melitus Tak Hanya Mengubah Fisik, tapi juga Emosi

  • 29 Sep 2026 14:31 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang: Diabetes melitus tak hanya mengubah kondisi fisik pasien, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi emosional dan cara seseorang menjalani kehidupannya. Setelah mendapatkan diagnosis penyakit kronis, pasien dapat mengalami kesedihan, kekecewaan, ketakutan, kejenuhan, hingga merasa kehilangan kehidupan yang sebelumnya dijalani. Kondisi tersebut menjadi bagian dari perjalanan psikologis yang perlu diperhatikan karena pengelolaan diabetes membutuhkan perubahan pola hidup dan perawatan dalam jangka panjang. Sejumlah kajian juga menunjukkan bahwa diabetes dapat berkaitan dengan masalah psikososial dan membutuhkan perhatian terhadap dukungan psikologis pasien.

Dosen Keperawatan Poltekkes Malang, Marsaid, menjelaskan bahwa perasaan berduka pada pasien diabetes dapat muncul karena adanya perubahan kemampuan maupun aktivitas yang sebelumnya dapat dilakukan secara normal. Menurutnya, seseorang yang sebelumnya aktif dan memiliki kemampuan fisik tertentu dapat merasakan kehilangan ketika penyakit diabetes mulai membatasi aktivitasnya. “Individu yang sebelumnya melakukan aktivitas normal, tetapi setelah DM, maka fungsi normalitas sedikit terganggu,” ujar Marsaid kepada RRI Malang, Selasa (29/9/2026).

Menurut Marsaid, rasa kehilangan tersebut dapat semakin kuat ketika diabetes sudah menimbulkan komplikasi. Salah satunya ketika pasien mengalami gangguan pada anggota tubuh hingga harus menjalani amputasi. Kondisi tersebut tentu membawa perubahan besar dalam kehidupan pasien karena bukan hanya berdampak pada kemampuan fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kepercayaan diri dan kondisi emosional. Bahkan sebelum komplikasi muncul, pasien dapat merasakan tekanan karena harus membatasi pola makan, melakukan aktivitas fisik, serta menjalani pengobatan secara teratur.

Dari sisi kondisi penyakit, pasien diabetes juga perlu mengenali gejala dan melakukan pemeriksaan secara berkala. Marsaid menjelaskan adanya gejala yang dikenal sebagai 3P, yakni poliuri atau sering buang air kecil, polidipsi atau sering merasa haus, serta polifagi atau mudah merasa lapar. Pemeriksaan kadar gula darah dapat dilakukan melalui beberapa metode, termasuk gula darah puasa, gula darah sewaktu, gula darah dua jam setelah makan, serta pemeriksaan HbA1c sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Sementara itu, Dosen Keperawatan Poltekkes Malang, Eddi Sudjarwo, menekankan bahwa respons emosional setelah diagnosis penyakit kronis perlu dipahami sebagai bagian dari proses adaptasi. Pasien dapat mengalami penolakan, kemarahan, mencoba mencari jalan keluar, hingga merasa sangat tertekan sebelum akhirnya mampu menerima kondisi yang dialaminya. Karena itu, keluarga dan tenaga kesehatan perlu memperhatikan perubahan kondisi psikologis pasien, bukan hanya berfokus pada angka gula darah dan pengobatan.

Pasien diabetes juga tidak perlu memandang diagnosis sebagai akhir dari kehidupan yang menyenangkan. Pengelolaan penyakit dapat dilakukan melalui kombinasi pengobatan, pola makan, aktivitas fisik, serta manajemen stres. Dukungan psikososial juga penting karena diabetes merupakan kondisi kronis yang menuntut pengelolaan diri dalam jangka panjang. “Tetap semangat berobat, hindari putus asa dalam pengobatan, baik konsumsi obat, exercise, diet dan manajemen stres,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....