Ahli Gizi UB Ingatkan Bahaya Malnutrisi dan Obesitas pada Lansia

  • 10 Jun 2026 09:53 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Masalah kesehatan pada lansia tidak hanya berkaitan dengan kekurangan gizi, tetapi juga kelebihan asupan yang dapat memicu obesitas. Kedua kondisi tersebut sama-sama berisiko menurunkan kualitas hidup lansia apabila tidak ditangani dengan tepat.

Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Brawijaya, sekaligus Anggota Komunitas Pro Women Malang, Catur Saptaning Wilujeng, S.Gz., MPH, menjelaskan bahwa saat ini Indonesia menghadapi fenomena double burden of malnutrition atau beban ganda masalah gizi. Kondisi ini terjadi ketika kasus kekurangan gizi dan kelebihan gizi muncul secara bersamaan di berbagai kelompok usia, termasuk lansia.

“Kalau di lansia ada yang mengalami malnutrisi atau kekurangan gizi, tetapi di sisi lain juga semakin meningkat kasus obesitas pada lansia,” jelasnya, Selasa (9/6/2026).

Menurut Catur, langkah awal yang perlu dilakukan sebelum menentukan pola makan lansia adalah mengetahui status gizinya terlebih dahulu. Lansia yang mengalami malnutrisi biasanya terlihat kurus, mengalami penurunan massa otot, hingga berpotensi mengalami anemia. Sementara obesitas dapat dikenali dari peningkatan berat badan yang berlebihan.

Untuk lansia yang mengalami kekurangan gizi, kebutuhan utama yang harus dipenuhi adalah energi dan protein dalam jumlah cukup. Namun, pemberian makanan tetap harus disesuaikan dengan kondisi fisik masing-masing lansia, terutama kemampuan mengunyah dan kondisi sistem pencernaannya.

Ia menambahkan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam merawat lansia adalah menurunnya nafsu makan. Banyak lansia yang merasa cepat kenyang atau mengalami rasa tidak nyaman pada perut sehingga enggan mengonsumsi makanan dalam jumlah cukup. Untuk mengatasi kondisi tersebut, keluarga dapat memberikan makanan dalam porsi kecil tetapi lebih sering.

“Menu makanan utama tetap harus diberikan, tetapi dengan porsi yang kecil dan lebih sering. Bisa juga ditambah camilan padat energi seperti ubi rebus, pisang rebus, atau susu sesuai kebutuhan,” katanya.

Selain makanan utama, suplemen dan susu tinggi kalsium juga dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi lansia. Namun, Catur mengingatkan bahwa suplemen tidak boleh dijadikan pengganti makanan utama.

“Semua suplemen atau makanan tambahan tidak bisa menggantikan makanan utama. Tetap harus mengonsumsi makanan sehari-hari yang bergizi seimbang,” ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....