Kenali Tanda Terlambat Bicara pada Anak sejak Dini
- 31 Agt 2026 13:40 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang- Kemampuan berbicara setiap anak berkembang dengan kecepatan yang berbeda. Namun, orang tua tetap perlu memahami tahapan perkembangan bicara dan bahasa agar dapat mengenali lebih awal apabila terdapat penyimpangan. Dr. Catharine M. Sambo, Sp.A, dalam laman resmi IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) menjelaskan bahwa pada usia dua tahun, anak umumnya diharapkan sudah mampu mengucapkan kalimat yang terdiri dari dua kata. Jika tahapan perkembangan tertentu belum tercapai, orang tua disarankan berkonsultasi dengan dokter anak.
Salah satu tanda yang perlu diperhatikan adalah ketika anak belum menunjukkan kemampuan babbling atau mengoceh hingga usia 12 bulan. Keterlambatan bicara dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, mulai dari gangguan pendengaran, kelainan pada organ penghasil suara, gangguan perilaku, gangguan perkembangan umum, specific language impairment, disabilitas intelektual, hingga kurangnya stimulasi dan masalah psikososial. Beberapa kondisi tersebut juga dapat terjadi secara bersamaan pada seorang anak.
Menurutnya, diagnosis dan penanganan keterlambatan bicara harus disesuaikan dengan penyebab serta kondisi masing-masing anak. Misalnya, pada anak yang mengalami keterlambatan bicara akibat gangguan pendengaran, penggunaan alat bantu dengar sejak dini dapat dianjurkan, disertai terapi wicara dan terapi lainnya jika diperlukan. “Semakin dini dilakukan penanganan, diharapkan hasil yang dicapai akan maksimal,” jelasnya.
Pencegahan keterlambatan bicara dapat dilakukan dengan memberikan stimulasi perkembangan sejak dini sekaligus melakukan deteksi terhadap tanda-tanda penyimpangan. Orang tua dapat mengajak bayi dan anak bercakap-cakap, membaca buku dengan suara jelas, memberikan respons terhadap ocehan bayi menggunakan kata-kata sederhana, menjawab pertanyaan, serta bernyanyi bersama. Sebaliknya, gawai dan televisi tidak dapat dijadikan sebagai metode utama untuk memberikan stimulasi bicara dan bahasa.
Orang tua juga perlu memahami tahapan perkembangan normal anak dengan memanfaatkan buku kesehatan anak sebagai salah satu sumber informasi. Selain mencatat data kelahiran, berat badan, dan imunisasi, buku tersebut umumnya memuat panduan perkembangan dan stimulasi anak. Pemeriksaan deteksi dini gangguan perkembangan juga perlu dilakukan secara berkala di fasilitas kesehatan sehingga apabila ditemukan penyimpangan, penanganan dapat segera diberikan.
Beberapa tanda bahaya yang perlu diperhatikan antara lain anak tidak bersuara sama sekali hingga usia enam bulan, belum babbling pada usia 12 bulan, belum memiliki satu kata bermakna pada usia 16 bulan, tidak mampu menunjuk untuk menunjukkan ketertarikan terhadap benda pada usia 20 bulan, serta belum mampu membuat frasa bermakna setelah usia 24 bulan. Orang tua juga perlu waspada jika pada usia 30 bulan perkataan anak masih sulit dipahami, anak sering mengulang ucapan orang lain, respons terhadap suara tidak konsisten, atau terjadi kehilangan kemampuan bicara yang sebelumnya sudah dikuasai. Jika tanda-tanda tersebut ditemukan, konsultasi dengan tenaga kesehatan perlu dilakukan sedini mungkin.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....