Kenali Tanda Bayi Cukup ASI

  • 26 Agt 2026 13:41 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang – Air Susu Ibu (ASI) menjadi sumber nutrisi penting bagi bayi, terutama pada enam bulan pertama kehidupan. Namun, sebagian orang tua masih khawatir apakah ASI yang diberikan sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan si kecil.

Melalui informasi yang dibagikan di media sosial resminya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengingatkan orang tua untuk mengenali sejumlah tanda bayi mendapatkan ASI yang cukup. Salah satunya dapat dilihat dari frekuensi bayi menyusu yang meningkat seiring bertambahnya produksi ASI dan ukuran lambung bayi.

Kemenkes juga menjelaskan bahwa ukuran lambung bayi pada awal kehidupan masih sangat kecil. Pada hari pertama, lambung bayi hanya berukuran sekitar sebesar kelereng dengan kapasitas sekitar 5–7 mililiter. Memasuki hari ketiga, ukurannya kira-kira sebesar bola pingpong dengan kapasitas 22–27 mililiter.

Selanjutnya, pada usia sekitar satu minggu, ukuran lambung bayi disebut sebesar telur ayam dengan kapasitas sekitar 60–81 mililiter. Sementara pada usia satu bulan, ukurannya semakin besar, kira-kira sebesar telur bebek.

Karena itu, kebutuhan ASI bayi tidak dapat disamakan dengan kebiasaan makan orang dewasa. Kemenkes menekankan bahwa orang tua perlu memahami kebutuhan bayi berdasarkan usia dan kondisi masing-masing.

Untuk mengetahui apakah bayi memperoleh ASI yang cukup, terdapat beberapa tanda yang dapat diperhatikan. Pertama, frekuensi bayi menyusu meningkat sejalan dengan semakin banyaknya ASI yang keluar dan bertambahnya ukuran lambung bayi.

Selain frekuensi menyusu, orang tua juga dianjurkan memantau frekuensi bayi buang air kecil. Kenaikan berat badan bayi juga menjadi salah satu indikator penting untuk melihat kecukupan asupan. Kemenkes sebelumnya menjelaskan bahwa bayi yang mendapatkan ASI cukup umumnya mengalami kenaikan berat badan sesuai pertumbuhan dan memiliki frekuensi buang air kecil yang memadai.

Kemenkes juga menganjurkan agar bayi disusui sesuai kebutuhan atau semau bayi. Pemberian ASI yang sering membantu merangsang produksi ASI. Dalam Buku KIA, Kemenkes juga menganjurkan pemberian ASI saja hingga bayi berusia enam bulan, kecuali terdapat anjuran medis tertentu.

Dengan demikian, orang tua tidak perlu hanya berpatokan pada seberapa banyak ASI yang terlihat keluar. Kondisi bayi, pola menyusu, frekuensi buang air kecil, serta pertumbuhan berat badan dapat menjadi indikator yang lebih membantu dalam menilai kecukupan ASI.

Jika terdapat kekhawatiran mengenai kecukupan ASI atau pertumbuhan bayi, orang tua dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau konselor menyusui untuk mendapatkan penilaian yang sesuai dengan kondisi bayi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....