Takut Obat Hipertensi Merusak Ginjal? Ini Faktanya

  • 24 Agt 2026 12:57 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang- Kekhawatiran obat hipertensi dapat merusak ginjal masih muncul di masyarakat, terutama pada pasien yang harus mengonsumsi obat dalam jangka panjang. Anggapan tersebut dan menyebut sejumlah obat justru dapat memberikan perlindungan terhadap fungsi ginjal pasien tertentu.

Kerusakan ginjal justru lebih berisiko terjadi ketika tekanan darah tinggi tidak dikendalikan dengan baik dalam jangka panjang. Tekanan darah yang terus tinggi dapat memberikan tekanan pada pembuluh darah sehingga secara perlahan mengganggu fungsi berbagai organ tubuh.

“Beberapa obat antihipertensi justru memiliki efek renal protektif, sehingga dapat membantu melindungi ginjal dari kerusakan akibat tekanan darah tinggi pada pasien tertentu,” ujar dr. Alfian Reddy Sagala, PPDS Kardiovaskular Universitas Brawijaya (UB), Sabtu (22/08/2026).

Karena itu, pasien hipertensi tidak dianjurkan menghentikan konsumsi obat secara sepihak hanya karena khawatir terhadap kondisi ginjal. Penggunaan obat harus mengikuti anjuran dokter dan dievaluasi secara berkala sesuai kondisi masing-masing pasien.

“Lama pengobatan hipertensi berbeda pada setiap orang dan dalam kondisi tertentu bisa berlangsung bertahun-tahun, tergantung hasil evaluasi serta kondisi pasien,” jelasnya.

Menurutnya, pengendalian hipertensi tidak hanya dilakukan melalui konsumsi obat, tetapi juga membutuhkan perubahan pola hidup secara konsisten. Pasien dianjurkan rutin berolahraga, menjaga berat badan, serta membatasi konsumsi garam dalam makanan sehari-hari.

“Natrium yang terlalu banyak dikonsumsi dapat membuat tubuh menyimpan lebih banyak cairan, sehingga volume cairan dalam pembuluh darah meningkat dan tekanan darah ikut meningkat,” terangnya.

Pasien perlu menjalani kontrol secara berkala untuk memastikan tekanan darah tetap terkendali sekaligus memantau kondisi organ yang berisiko mengalami komplikasi. Penanganan hipertensi juga dapat melibatkan dokter, perawat, ahli gizi, serta tenaga kesehatan lainnya sesuai kebutuhan pasien.

“Kalau tekanan darah sudah normal, bukan berarti hipertensinya sudah sembuh dan obat boleh langsung dihentikan. Pengurangan dosis atau penghentian obat harus diputuskan dokter berdasarkan kondisi dan hasil pemeriksaan pasien,” tegasnya.

Selain pengobatan, masyarakat juga dianjurkan mengurangi makanan tinggi natrium, menjaga berat badan, berolahraga secara teratur, dan berhenti merokok. Pemeriksaan tekanan darah secara rutin menjadi penting karena hipertensi sering tidak menimbulkan gejala sehingga seseorang dapat tidak menyadari dirinya memiliki tekanan darah tinggi.

Masyarakat dihimbau tidak takut memeriksakan tekanan darah maupun menjalani pengobatan ketika memang diperlukan. Dengan deteksi dini, kontrol teratur, pengobatan sesuai anjuran, dan pola hidup sehat, risiko komplikasi hipertensi terhadap ginjal maupun organ lainnya dapat ditekan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....