Kanker Paru Tak Hanya Menyerang Perokok, Ini Risikonya

  • 24 Agt 2026 12:34 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang- Peringatan World Lung Cancer Day setiap 1 Agustus menjadi momentum untuk mengingatkan masyarakat bahwa kanker paru tidak hanya mengancam orang yang memiliki kebiasaan merokok. Dokter spesialis pulmonologi dan onkologi, Dr. dr. Ungky Agus Setyawan, SpP(K)-Onk.T, FAPSR, dalam dialog Indonesia Sehat di Pro 1 RRI Malang, Jumat (21/8/2026) mengatakan sejumlah faktor lain juga dapat meningkatkan risiko kanker paru, mulai dari paparan asap rokok orang lain, polusi udara, lingkungan kerja, asap dari aktivitas memasak hingga pembakaran plastik. Kesadaran terhadap berbagai faktor risiko tersebut dinilai penting agar masyarakat tidak merasa aman hanya karena tidak merokok.

Menurut Dokter Ungky, rokok memang menjadi salah satu faktor risiko utama kanker paru dan jumlah pasien dengan riwayat merokok masih cukup besar. Namun, bukan berarti orang yang tidak pernah merokok terbebas sepenuhnya dari penyakit tersebut. Paparan lingkungan dalam jangka panjang juga dapat memberikan dampak terhadap jaringan paru. Karena itu, masyarakat perlu melihat kesehatan paru secara lebih menyeluruh, tidak hanya menghubungkannya dengan kebiasaan merokok.

“Kanker paru tidak hanya pada perokok, tetapi memang porsinya banyak pada perokok. Ada juga faktor risiko lain seperti paparan indoor dan outdoor, paparan pekerjaan, asap masak dengan ventilasi yang tidak bagus, pembakaran plastik, penyakit paru kronis dan pasien yang pernah terkena TB,” ujar Dokter Ungky.

Ia juga menyoroti paparan asap rokok terhadap anggota keluarga yang tidak merokok. Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru dapat menjadi sumber paparan apabila terdapat anggota keluarga yang terus merokok di dalam rumah. Anak-anak, lansia maupun anggota keluarga lain yang tidak merokok dapat ikut menghirup asap rokok secara terus-menerus.

Risiko tersebut semakin penting diperhatikan karena kanker paru pada tahap awal sering kali tidak menunjukkan gejala yang jelas. Kondisi ini menyebabkan masyarakat terkadang terlambat menyadari adanya gangguan pada paru. Pada perokok, batuk juga kerap dianggap sebagai keluhan biasa sehingga tidak segera diperiksakan. Padahal, batuk yang menetap, batuk berdarah, nyeri dada dan penurunan berat badan drastis perlu mendapatkan perhatian medis.

Melalui momentum World Lung Cancer Day 2026, Dokter Ungky mengajak masyarakat tidak hanya berhenti pada kesadaran tentang bahaya kanker paru, tetapi juga mulai mengurangi faktor risiko. Berhenti merokok, menghindari paparan asap rokok, menjaga kualitas udara di rumah, menggunakan ventilasi yang baik serta segera memeriksakan diri ketika muncul keluhan yang menetap menjadi langkah yang dapat dilakukan. “Mari bersama dukung, perkuat deteksi dini, mendampingi kanker paru agar survive dan sehat. Perbaiki sistem kesehatan kita,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....