Jangan Keliru, Kenali Perbedaan Asam Urat dan Rematik

  • 04 Jun 2026 16:46 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Nyeri sendi sering kali dianggap sebagai gejala rematik oleh sebagian masyarakat. Padahal, rematik dan asam urat merupakan dua kondisi yang berbeda, baik dari penyebab, gejala, maupun penanganannya.

Meski sama-sama menimbulkan keluhan pada persendian, kesalahan dalam mengenali kedua penyakit ini dapat menyebabkan penanganan yang kurang tepat. Karena itu, penting untuk memahami perbedaan mendasar antara rematik dan asam urat.

Rematik atau artritis reumatoid merupakan penyakit autoimun yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan sehat, termasuk lapisan sendi. Kondisi ini memicu peradangan kronis yang dapat menyebabkan nyeri, pembengkakan, kekakuan, hingga kerusakan sendi jika tidak ditangani dengan baik.

Selain menyerang sendi, rematik juga berpotensi memengaruhi organ lain seperti mata, kulit, paru-paru, dan jantung. Gejalanya umumnya muncul secara bertahap dan sering menyerang kedua sisi tubuh secara simetris, terutama pada sendi-sendi kecil di tangan dan kaki.

Sementara itu, asam urat terjadi akibat tingginya kadar asam urat dalam darah. Kondisi ini menyebabkan terbentuknya kristal asam urat yang menumpuk di persendian dan memicu peradangan.

Serangan asam urat biasanya muncul secara mendadak dengan rasa nyeri yang sangat hebat. Keluhan paling sering terjadi pada satu sendi, terutama di jempol kaki, disertai kemerahan, bengkak, dan sensasi panas pada area yang terdampak.

Dari sisi penyebab, rematik berkaitan dengan gangguan sistem imun, sedangkan asam urat lebih dipengaruhi oleh gangguan metabolisme purin yang berasal dari makanan tertentu seperti daging merah, jeroan, dan beberapa jenis makanan laut.

Penanganan kedua penyakit ini juga berbeda. Pada rematik, terapi umumnya bertujuan mengendalikan respons sistem kekebalan tubuh dan mengurangi peradangan. Adapun pada asam urat, pengobatan difokuskan untuk menurunkan kadar asam urat dalam darah serta mencegah pembentukan kristal di persendian.

Meski demikian, kedua kondisi tersebut dapat dikendalikan melalui pengobatan yang tepat, pola makan sehat, aktivitas fisik yang sesuai, dan pemeriksaan rutin ke tenaga medis.

Apabila mengalami nyeri sendi yang berlangsung lama, sering kambuh, atau semakin berat, masyarakat disarankan segera berkonsultasi dengan dokter agar mendapatkan diagnosis dan penanganan yang sesuai.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....