ketika Skizofrenia Kambuh: Tantangan Pengobatan, Keluarga & Rumah Singgah
- 20 Agt 2026 17:22 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Penanganan gangguan jiwa tidak berhenti ketika pasien keluar dari rumah sakit. Bagi keluarga pasien dengan kondisi berat, tantangan justru dapat muncul ketika perawatan kembali dilakukan di rumah.
Perawat RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat, Yudi Hartono, mengungkapkan bahwa pasien dengan skizofrenia dapat mengalami kekambuhan ketika pengobatan dan pola perawatan tidak berjalan secara konsisten.
Saat berada di rumah sakit, kondisi pasien dapat dipantau secara lebih teratur. Mulai dari pemberian obat, waktu istirahat, lingkungan, hingga aktivitas sehari-hari berada dalam pengawasan tenaga kesehatan.
“Kalau kasus skizofrenia itu biasanya mereka cuma baik di rumah sakit karena semuanya disiplin. Jadi mulai istirahat, mulai pengobatan, masuk tidaknya obat ke badannya itu dikontrol oleh perawat sama psikiater,” ujarnya, Kamis (20/8/2026).
Kondisi tersebut berbeda ketika pasien kembali ke rumah. Ketidakteraturan mengonsumsi obat dapat menjadi salah satu persoalan yang membuat kondisi pasien kembali memburuk atau mengalami relaps.
Menurut Yudi, pasien dapat terlihat membaik selama menjalani perawatan karena berbagai aspek kehidupannya lebih terkontrol. Namun, setelah kembali ke rumah, pola tersebut belum tentu dapat dipertahankan sehingga risiko kekambuhan kembali muncul.
Persoalan tidak hanya dirasakan pasien. Keluarga yang pernah mengalami peristiwa agresivitas atau kekerasan juga dapat mengalami trauma.
Dalam dialog RRI Malang, Yudi menjelaskan bahwa keluarga pasien yang pernah melakukan tindakan agresif terkadang merasa takut jika pasien kembali langsung ke rumah. Selain trauma pribadi, keluarga juga dapat menghadapi tekanan dari lingkungan masyarakat.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan keberadaan rumah singgah di sekitar rumah sakit jiwa. Pasien dapat ditempatkan di rumah singgah setelah menyelesaikan masa perawatan di rumah sakit sebelum kembali ke keluarga.
Keberadaan rumah singgah juga berkaitan dengan persoalan jarak. Sebagian pasien berasal dari daerah di luar Malang, seperti Pasuruan dan Jember. Ketika harus kembali melakukan kontrol, perjalanan menuju rumah sakit dapat membutuhkan waktu dan biaya.
Yudi menjelaskan bahwa pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit mendapatkan penanganan dari tim multidisiplin. Tidak hanya psikiater dan perawat jiwa, tetapi juga terdapat profesi lain seperti ahli gizi dan fisioterapis.
Pemberian obat menjadi bagian penting dari penanganan. Dalam praktik keperawatan, terdapat prinsip pemberian obat yang harus diperhatikan, termasuk memastikan obat diberikan kepada pasien yang tepat, pada waktu yang tepat, dan melalui prosedur yang benar.
Dalam dialog tersebut juga dijelaskan bahwa pengobatan pada skizofrenia dapat berlangsung dalam jangka panjang. Yudi menyebut obat digunakan untuk menekan gejala seperti halusinasi dan waham. Ketika pengobatan dihentikan, gejala dapat kembali muncul.
“Jadi obatnya harus dikonsumsi seumur hidup, long life. Ketika obat dilepas itu akan muncul lagi halusinasi atau delusinya,” ungkapnya.
Karena itu, kepatuhan terhadap pengobatan menjadi persoalan penting setelah pasien keluar dari rumah sakit.
Salah satu risiko yang perlu diperhatikan adalah munculnya kembali delusi dan halusinasi. Delusi merupakan keyakinan yang salah tetapi dipertahankan, sedangkan halusinasi berkaitan dengan gangguan persepsi sensorik.
Yudi menjelaskan, dalam kondisi tertentu, isi halusinasi dapat berupa suara atau bisikan yang memberikan perintah. Jika isi halusinasi tersebut bersifat agresif, pasien dapat terdorong melakukan tindakan tertentu secara refleks.
Waham curiga juga dapat membuat pasien memiliki keyakinan berlebihan bahwa seseorang merupakan musuhnya. Persepsi tersebut kemudian dapat memicu respons agresif ketika pasien merasa terancam.
Keluarga perlu mengenali perubahan perilaku sejak awal. Perubahan seperti tidak mau merawat diri, semakin sering menyendiri, berbicara sendiri, atau menolak berinteraksi dengan lingkungan perlu diperhatikan dan dikonsultasikan kepada profesional.
Keluarga juga perlu terbuka kepada tenaga kesehatan. Informasi mengenai perubahan perilaku pasien harus disampaikan secara lengkap agar psikiater dapat melakukan asesmen dan menentukan penanganan yang tepat.
Yudi menegaskan bahwa kekambuhan dapat terjadi ketika kondisi pasien yang sudah membaik tidak didukung dengan pola perawatan yang konsisten di rumah.
“Manakala kalau pulang kembali ke rumah enggak seperti itu, jadi gampang sekali relaps. Obatnya enggak teratur lagi di rumah, sehingga pasien atau si skizofrenia tersebut relaps,” ucapnya.
Karena itu, penanganan gangguan jiwa membutuhkan kesinambungan antara rumah sakit, keluarga, lingkungan sosial, dan pasien sendiri.
Deteksi dini, pengobatan yang konsisten, dukungan keluarga, lingkungan yang aman, serta akses terhadap layanan kesehatan mental menjadi bagian penting untuk menjaga kondisi pasien tetap stabil sekaligus mencegah risiko yang lebih berat di kemudian hari.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....