Psikolog Jelaskan Tanda Burnout dan Waktu Tepat untuk Resign
- 29 Jul 2026 16:29 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Kelelahan dalam bekerja merupakan hal yang wajar dialami setiap orang. Namun, kondisi tersebut perlu diwaspadai apabila berlangsung terus-menerus hingga mengganggu kesehatan fisik maupun mental.
Gebi Angelina Zahra, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa tidak semua stres merupakan hal yang buruk, tetapi ada batas ketika stres berubah menjadi burnout. Hal tersebut dia ungkap dalam program Obrolan Psikologi RRI Malang beberapa waktu lalu.
Gebi menerangkan bahwa stres yang sehat masih dapat dikelola karena tuntutan pekerjaan seimbang dengan kemampuan seseorang. Sebaliknya, burnout muncul ketika tekanan yang diterima sudah melebihi sumber daya yang dimiliki sehingga tubuh dan pikiran mulai mengalami kelelahan berkepanjangan.
"Kalau sudah burnout, kelelahan itu konstan. Bangun tidur sudah merasa lelah, sebelum berangkat kerja muncul rasa mual, pikiran menjadi negatif, sampai merasa tidak mampu menghadapi pekerjaan meskipun belum mencobanya," ungkapnya saat dikonfirmasi RRI pada selasa (28/7/2026).
Selain gejala psikologis, burnout juga dapat ditandai dengan keluhan fisik seperti sakit kepala, pegal berkepanjangan, hingga hilangnya semangat bekerja. Karena itu, ia mengimbau pekerja untuk mengenali kondisi dirinya sebelum memaksakan diri mengejar target yang semakin tinggi.
Gebi menambahkan bahwa lingkungan kerja juga memengaruhi kesehatan mental seseorang. Ketika menghadapi rekan kerja yang toksik, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah membangun boundaries atau batasan yang sehat serta belajar bersikap asertif.
"Jika hal tersebut sulit dilakukan sendirian, pekerja disarankan mencari dukungan dari rekan kerja, komunitas, maupun organisasi pekerja," katanya.
Ia juga menyoroti fenomena banyaknya pekerja yang ingin segera mengundurkan diri ketika menghadapi tekanan. Menurutnya, keputusan resign tidak bisa didasarkan semata-mata pada rasa lelah sesaat, tetapi perlu melihat apakah lingkungan kerja masih memberi ruang untuk berkembang.
"Kalau pekerjaan masih memberi otonomi, variasi tugas, identitas yang jelas, dan kesempatan berinisiatif melalui job crafting, maka keinginan resign belum tentu valid. Tetapi kalau semua itu tidak ada, keputusan resign bisa menjadi pilihan yang masuk akal," katanya.
Di akhir perbincangan, Gebi mengingatkan pentingnya menghargai setiap pencapaian kecil selama bekerja. Rasa berhasil menyelesaikan tantangan, meski sederhana, menjadi tanda bahwa seseorang terus berkembang.
"Untuk pekerja tetap harus menjaga kesehatan mental dengan membangun dukungan sosial dan berani menyampaikan kebutuhan secara asertif ketika menghadapi tekanan di lingkungan kerja," tutupnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....