Psikolog: Bahagia di Tempat Kerja Harus Dibangun, Bukan Ditunggu

  • 29 Jul 2026 17:05 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Bekerja tidak selalu identik dengan rasa bahagia setiap saat. Di tengah tren media sosial yang kerap menampilkan gambaran pekerjaan ideal, banyak orang mulai mempertanyakan apakah pekerjaan yang baik harus selalu membuat seseorang merasa senang.

"Kebahagiaan dalam bekerja merupakan sesuatu yang realistis, tetapi tidak hadir begitu saja tanpa usaha," terang Gebi Angelina Zahra, M.Psi., Psikolog, Selasa (28/7/2026).

Dalam program Obrolan Psikologi RRI Malang, Gebi menjelaskan bahwa kebahagiaan di tempat kerja dapat muncul dalam dua bentuk. Pertama adalah hedonic happiness, yaitu kebahagiaan yang berasal dari kepuasan langsung seperti gaji, lingkungan kerja yang nyaman, atau rekan kerja yang menyenangkan. Kedua adalah eudaimonic happiness, yakni kebahagiaan yang lahir dari proses bertumbuh, belajar, dan mengembangkan diri.

"Kalau realistis, ya realistis. Tapi tetap harus dicapai dengan usaha. Namanya usaha tentu membutuhkan energi dan proses untuk mencapai kebahagiaan di dunia kerja," ujarnya.

Ia mengatakan, seseorang yang mampu menikmati pekerjaannya belum tentu memiliki beban lebih ringan dibanding orang lain. Salah satu faktor yang membedakan adalah kemampuan melakukan job crafting, yaitu membentuk cara pandang dan cara menjalankan pekerjaan agar terasa lebih bermakna dan sesuai dengan kekuatan diri.

Menurutnya, dua orang dengan beban kerja berbeda bisa memiliki tingkat kebahagiaan yang bertolak belakang. Ada orang yang tetap menikmati pekerjaan dengan tanggung jawab besar, sementara ada pula yang mudah tertekan meski pekerjaannya relatif ringan.

Selain itu, Gebi menekankan pentingnya menemukan makna dalam pekerjaan. Ketika seseorang memahami alasan mengapa ia melakukan pekerjaannya dan manfaat yang dihasilkan bagi dirinya maupun orang lain, motivasi untuk bertahan dan berkembang akan lebih kuat.

"Pekerjaan itu harus punya makna. Ketika kita tahu pekerjaan ini memberi manfaat untuk hidup kita, melatih kemampuan kita, atau membantu mencapai tujuan tertentu, maka kita akan lebih siap menghadapi tantangan yang ada," jelasnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah membandingkan kehidupannya dengan apa yang terlihat di media sosial. Menurutnya, unggahan mengenai pekerjaan maupun aktivitas seseorang belum tentu menggambarkan kondisi yang sebenarnya.

Lebih lanjut, Gebi mengajak para pekerja untuk lebih menghargai setiap proses perkembangan yang telah dilalui. Rasa bangga atas pencapaian kecil dinilai menjadi salah satu indikator bahwa seseorang sedang bertumbuh, meskipun perjalanan kariernya belum sepenuhnya terasa mudah ataupun menyenangkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....