FOMO dan Kebiasaan Scrolling Berlebihan Bisa Ganggu Kesehatan Mental

  • 22 Jul 2026 14:04 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang – Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) menjadi salah satu faktor yang membuat banyak orang sulit melepaskan diri dari media sosial. Kondisi tersebut tidak hanya memicu kecemasan, tetapi juga berpotensi mengganggu produktivitas, kualitas tidur, hingga hubungan sosial apabila tidak dikendalikan. Di tengah meningkatnya aktivitas digital, terutama di kalangan generasi muda, kesadaran untuk menggunakan media sosial secara sehat dinilai semakin penting.

Mentor Castle Rock Indonesia, Aurelia Miranda, S.Psi, mengatakan banyak pengguna media sosial hanya melihat hasil yang dicapai orang lain tanpa mengetahui proses panjang di balik pencapaian tersebut. Akibatnya, tidak sedikit orang yang merasa tertinggal, membandingkan diri secara berlebihan, hingga mengalami tekanan psikologis.

"Kita sering melihat figur yang kita sukai, lalu ingin mengikuti kehidupannya. Padahal kita tidak tahu bagaimana kerja keras di balik itu semua. FOMO menciptakan kecemasan sosial karena seseorang takut tertinggal informasi atau tren yang sedang viral," ungkap Aurelia dalam program Jaga Malam Mental Health Pro 2 RRI Malang, Selasa (21/7/2026).

Menurut Aurelia, penggunaan gawai yang berlebihan juga dapat dikenali melalui berbagai perubahan fisik maupun emosional. Tanda-tandanya sering kali muncul secara perlahan sehingga kerap diabaikan oleh pengguna.

"Secara fisik bisa ditandai dengan susah tidur, kualitas tidur terganggu, hingga kepala terasa pusing. Secara emosional muncul kecemasan ketika jauh dari handphone," jelasnya.

Ia menambahkan, kebiasaan terus-menerus mengecek ponsel meski tidak ada notifikasi, sulit fokus saat berbicara dengan orang lain, hingga perilaku belanja impulsif akibat paparan media sosial merupakan beberapa indikator seseorang mulai mengalami ketergantungan terhadap perangkat digital. Jika dibiarkan, kondisi tersebut dapat memengaruhi konsentrasi saat belajar atau bekerja serta menurunkan kualitas interaksi dengan orang-orang di sekitarnya.

Sementara itu, Laura Citra Widiyanti, S.Psi, menegaskan media sosial bukan penyebab tunggal gangguan kesehatan mental, namun menjadi salah satu faktor yang dapat memperburuk kondisi apabila penggunaannya tidak dikendalikan. Menurutnya, penting bagi masyarakat untuk menyadari bahwa algoritma media sosial dirancang agar pengguna terus berinteraksi dengan platform, sehingga diperlukan kemampuan mengatur batasan penggunaan secara mandiri.

"Penyebab tunggal memang tidak, tetapi media sosial bisa menjadi faktor utama. Mulai dari kebiasaan membandingkan diri, FOMO, hingga menurunnya fokus yang akhirnya memengaruhi aktivitas sehari-hari," tutup Laura.

Melalui edukasi mengenai digital well-being, kedua narasumber mengajak masyarakat untuk lebih bijak menggunakan media sosial, seperti membatasi waktu screen time, mengurangi kebiasaan doomscrolling, dan memberi ruang bagi aktivitas di dunia nyata. Langkah sederhana tersebut diharapkan mampu menjaga kesehatan mental sekaligus memastikan teknologi tetap menjadi sarana yang mendukung produktivitas dan kualitas hidup, bukan sumber stres maupun kecemasan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....